Perbedaan Tawakal, Taslim dan Tafwidh

Tawakal, Taslim dan Tafwidh


Suhux.com - Syaikh Abu Ali Ad Daqqoq berkata "Kepasrahan sepenuh hati (total) dalam literatur keislaman terbagi menjadi 3 tingkatkan. Pertama, Tawakkal, kedua Taslim ketiga Tafwidl.

Orang yang bertawakkal, hatinya tenang, ia percaya pada janji-Nya. Orang yang taslim, ia merasa cukup hanya dengan ilmu-Nya.
Orang yang tafwidl, ia ridlo dengan segala ketentuan-Nya.

Dalam perjalanan menuju Allah, sikap Tawakkal adalah tingkat permulaan, sedangkan Taslim adalah tingkat pertengahan, lalu tafwidl adalah puncaknya.

Tawakkal adalah sifatnya orang mukmin. Taslim adalah sifatnya para wali. Tafwidl adalah sifatnya para muwahhidin."

Seorang salik (orang yang menuju pada Allah) menempatkan sikap tawakal pada awal permulaan suluknya. Karena Tawakkal Adalah titik awal yang harus ia tanam dalam hatinya dalam menjalani berbagai hal yang berhubungan dengan perintah atau perjalanan rohani. Sikap yang diambil adalah penyandaran diri kepada Allah dan bersikap percaya penuh (tsiqah) kepada-Nya. Setelah itu dilanjutkan dengan getaran hati dalam berlepas diri dari segala bentuk kekuatan dan daya upaya diri dan manusia.

Dari tawakal ini akan dihasilkan sikap fokusnya hati hanya kepada Dzat Yang Mahakuasa. Dari sini akan dihasilkan kesadaran diri secara total kepada Allah secara spiritual.

Setelah dari tingkatkan tawakal ini, maka salik (orang yang menuju pada Allah) akan naik level pada tingkatkan "taslim".

Dari Tawakal akan dihasilkan sikap diri dan kesadaran hati hanya bersandar  kepada Allah dan sepenuh hati mempercayai-Nya.

Dari kesadaran hati ini, sang salik akan senantiasa melarikan dirinya dari segala kekuasaan dan kekuatan dari manapun. Yang ada dalam hatinya hanyalah Allah yang punya segala kekuatan dan kekuasaan.

Jika sikap dan hati sang salik masih belum bisa mencapai pada tingkatkan ini, maka ia masih belum mencapai tingkatan tawakal yang sejati, ia masih belum bisa disebut sebagai seorang hamba yang sudah bertawakal.

Jika seorang hamba masih membuka pintu hatinya untuk yang selain Allah, maka ia tidak akan pernah mencapai  tingkat tawakal yang sejati. Ia masih jauh dari yang namanya tawakal.

Tawakal bukan berarti harus meninggalkan ikhtiar dalam menghasilkan asbab. Sang salik tetap harus menggerakkan raga menyambut asbab sebagai bentuk ikhtiar. Namun, Sikap hatinya tetap fokus pada getaran takdir dari sang penggenggam segala kekuasaan dan kekuatan.

Setelah salik bisa melampaui tahapan pertama, maka ia melangkah ke tingkat kedua, yaitu "taslim". Taslim didefinisikan oleh para Ahli al-Haq sebagai "sikap berserah diri seorang hamba layaknya mayit di tangan orang yang memandikannya".

Setelah melalui maqam taslim, seorang hamba naik pada maqam "tafwidh". Tafwidh didefinisikan upaya mengalihkan segala sesuatu hanya kepada dan untuk Allah ta'ala semata, dan menunggu segala sesuatu dari-Nya.

Dari penjabaran di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa "tawakal adalah awal permulaan langkah seorang hamba, sementara taslim adalah hasilnya, sedangkan tafwidh adalah buahnya.

Oleh sebab itu, ruang lingkup tafwdh lebih luas dari kedua maqam sebelumnya, karena tafwidh membawa seorang hamba pada arena "keterlepasan dari kekuatan dan daya yang dimilikinya".

Pada maqam tafwidh inilah seseorang mencapai puncak  "laa haula wa laa quwwata illa billah" (tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya Allah). Dari sinilah seorang hamba akan merasakan "Khazanah Tersembunyi" (Kanz Makhfi) di setiap saat, serta ia akan merasa memiliki seluruh kekayaan yang ada di dalam surga.

Dengan kata lain: Seorang hamba yang sedang raihlah spiritual (suluk) harus selalu merasa lemah dan Fakir, karena ia selalu ingat pada titik istinâd dan istimdâd yang ada di dalam hatinya.

Setelah kesadaran itu sudah mendarah daging dalam dirinya, tak ada ucapan yang keluar kecuali "Hamba tak mampu berpaling dari-Mu. Raihlah tangan hamba wahai Ilahi...". Yang memenuhi dirinya hanyalah keinginan untuk selalu bertawajuh menuju kepada sang Sumber kekuatan, kehendak, dan keinginan.

Tawakal adalah sikap seorang hamba yang selalu menjadikan Allah sebagai tempat bergantung demi kemaslahatannya, baik pada urusan duniawi maupun ukhrawi.

Adapun tafwidh adalah istilah yang digunakan untuk menyebut pengakuan terhadap esensi yang ada di balik sikap tawakal dengan menggunakan perasaan hati.

Dengan kata lain, Tawakal adalah ketika seorang manusia bersandar hanya kepada Allah semata, serta menutup semua pintu hati dari yang selain-Nya.

Dalam prakteknya, tawakal adalah membaktikan seluruh anggota tubuh dalam aktivitas ubudiyah dan menyandarkan hati dengan rububiyah-Nya.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah "Jadilah orang percaya kepada Allah dan sabarlah atas ketetapan-Nya,
Pasti kau raih segala anugerah yang kau harap dari-Nya."

Sumber: Kitab maslakul atqiya' hal. 146, kitab ihya' 4/258, dan kitab sirojut tholibin


قال أبو علي الدقاق: التوكل ثلاث درجات: التوكل ثم التسليم ثم التفويض، فالمتوكل يسكن إلى وعده، وصاحب التسليم يكتفي بعلمه، وصاحب التفويض يرضى بحكمه، فالتوكل بداية والتسليم واسطة والتفويض نهاية، فالتوكل صفة المؤمنين والتسليم صفة الأولياء والتفويض صفة الموحدين

١ - التَّوَكُّل فِي اللُّغَةِ: إِظْهَارُ الْعَجْزِ وَالاِعْتِمَادُ عَلَى الْغَيْرِ وَالتَّفْوِيضُ وَالاِسْتِسْلاَمُ، وَالاِسْمُ مِنْهُ الْوَكَالَةُ. يُقَال: وَكَّل أَمْرَهُ إِلَى فُلاَنٍ أَيْ فَوَّضَهُ إِلَيْهِ، وَاعْتَمَدَ عَلَيْهِ فِيهِ، وَتَوَكَّل عَلَى اللَّهِ اعْتَمَدَ عَلَيْهِ وَوَثِقَ بِهِ، وَاتَّكَل عَلَيْهِ فِي أَمْرِهِ كَذَلِكَ. وَالتَّوَكُّل أَيْضًا قَبُول الْوَكَالَةِ، يُقَال وَكَّلْتُهُ تَوْكِيلاً فَتَوَكَّل. (١)
وَفِي الشَّرِيعَةِ يُطْلَقُ التَّوَكُّل عَلَى الثِّقَةِ بِاَللَّهِ وَالإِْيقَانِ بِأَنَّ قَضَاءَهُ مَاضٍ، وَاتِّبَاعٍ لِسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّعْيِ فِيمَا لاَ بُدَّ لَهُ مِنْهُ مِنَ الأَْسْبَابِ. (٢)

تَسْلِيمٌ - التَّعْرِيفُ:
١ - مِنْ مَعَانِي التَّسْلِيمِ فِي اللُّغَةِ: التَّوْصِيل، يُقَال سَلَّمَ الْوَدِيعَةَ لِصَاحِبِهَا: إِذَا أَوْصَلَهَا فَتَسَلَّمَ ذَلِكَ، وَأَسْلَمَ إِلَيْهِ الشَّيْءَ: دَفَعَهُ. وَمِنْهُ السَّلَمُ، وَتَسَلَّمَ الشَّيْءَ: قَبَضَهُ وَتَنَاوَلَهُ. وَسَلَّمْتُ إِلَيْهِ الشَّيْءَ فَتَسَلَّمَهُ: أَيْ أَخَذَهُ. وَسَلَّمَ الشَّيْءَ لِفُلاَنٍ: أَيْ خَلَّصَهُ. وَسَلَّمَهُ إِلَيْهِ: أَعْطَاهُ إِيَّاهُ. وَسَلَّمَ الأَْجِيرُ نَفْسَهُ لِلْمُسْتَأْجِرِ: مَكَّنَهُ مِنْ مَنْفَعَةِ نَفْسِهِ حَيْثُ لاَ مَانِعَ. وَالتَّسْلِيمُ بَذْل الرِّضَى بِالْحُكْمِ.
وَالتَّسْلِيمُ: السَّلاَمُ، وَسَلَّمَ الْمُصَلِّي: خَرَجَ مِنَ الصَّلاَةِ بِقَوْلِهِ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. وَسَلَّمَ عَلَى الْقَوْمِ: حَيَّاهُمْ بِالسَّلاَمِ، وَسَلَّمَ: أَلْقَى التَّحِيَّةَ، وَسَلَّمَ عَلَيْهِ: قَال لَهُ: سَلاَمٌ عَلَيْكَ. (١)
وَلاَ يَخْرُجُ مَعْنَى التَّسْلِيمِ فِي اصْطِلاَحِ الْفُقَهَاءِ عَنِ الْمَعَانِي الْمَذْكُورَةِ.

تَفْوِيضٌ - التَّعْرِيفُ

١ - التَّفْوِيضُ لُغَةً مَصْدَرُ فَوَّضَ، يُقَال: فَوَّضْتُ إِلَى فُلاَنٍ الأَْمْرَ أَيْ صَيَّرْتُهُ إِلَيْهِ وَجَعَلْتُهُ الْحَاكِمَ فِيهِ. (١) وَمِنْهُ حَدِيثُ الْفَاتِحَةِ فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي (٢) وَاصْطِلاَحًا يُسْتَعْمَل فِي بَابِ النِّكَاحِ. يُقَال: فَوَّضَتِ الْمَرْأَةُ نِكَاحَهَا إِلَى الزَّوْجِ حَتَّى تَزَوَّجَهَا مِنْ غَيْرِ مَهْرٍ، وَقِيل: فَوَّضَتْ أَيْ أَهْمَلَتْ حُكْمَ الْمَهْرِ، فَهِيَ مُفَوِّضَةٌ (بِكَسْرِ الْوَاوِ) لِتَفْوِيضِهَا أَمْرَهَا إِلَى الزَّوْجِ أَوِ الْوَلِيِّ بِلاَ مَهْرٍ.
وَمُفَوَّضَةٌ (بِفَتْحِ الْوَاوِ) مِنْ فَوَّضَهَا وَلِيُّهَا إِلَى الزَّوْجِ بِلاَ مَهْرٍ. (٣)
وَهُوَ فِي بَابِ الطَّلاَقِ: جَعَل أَمْرَ طَلاَقِ الزَّوْجَةِ بِيَدِهَا (٤) .
data:post.title
Seseorang yang lebih suka menulis dan membagikan apa yang di tuliskan agar dunia tahu.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Berlangganan update artikel terbaru via email:

    0 Response to "Perbedaan Tawakal, Taslim dan Tafwidh"

    Post a comment