Biografi KH. Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar dan Sejarah Singkat Kehidupannya

Nama KH. Abdul Hamid

Suhu X -Nama beliau Abdul Hamid bin Abdullah umar. Lahir di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M). Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang.

Nama Kecil KH. Abdul Hamid adalah Abdul Mu'thi. Begitu si cabang lahir, nama Abdul Mu'thi disematkan padanya. Nama itulah panggilan beliau hingga beliau menunaikan ibadah haji bersama sang Kakeh, hingga kepulangan beliau dari kota Makkah dan berganti menjadi Abdul Hamid.

Abdul Mu'thi kecil kerap dipanggil dengan panggilan "Dul" saja. Tapi, karena kenakalannya, akhirnya nama tersebut diplesetkan menjadi "bedul atau Bedudul".

Abdul Hamid kecil memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. "Nakalnya luar biasa". Tapi kenakalan Abdul Hamid kecil tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan bahkan sampai melakukan tindak asusila. tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau, mengenang masa kecil Sang Kyai.

Nakalnya Abdul Hamid kecil adalah kenakalan seorang bocah yang masih dalam batas kewajaran, tapi untuk seorang putra kiai, hal ini dipandang "luar biasa".

Dalam kesehariannya, Abdul Hamid kecil jarang berada di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang bersama teman-temannya.

Beliau bisa disebut pegila sepak bola, istilah sekarang bolamania. Kegemaran bermain sepak bola ini menjadikan sang ayah agak kesulitan mengatur dan membendung hobinya. Hingga waktu kesehariannya banyak dihabiskan dengan bermain. Otomatis hal ini menjadikan kegiatan ngajinya kurang teratur, walaupun tidak ditinggalkan semuanya.

Abdul Hamid kecil mengaji langsung kepada KH. Ma'shum (ayahanda KH. Ali Ma'shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua "pentolan" ulama Lasem.

Ketika Usia mulai beranjak remaja (ABG), Abdul Hamid mulai gemar belajar ilmu kanoragan (ilmu kesaktian). Beliau belajar cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. "Sudah bisa menangkap babi jadi-jadian," tutur KH. Zaki Ubaid Pasuruan.

Meski beliau belajar ilmu kanuragan, tapi tanda-tanda beliau bakal calon wali besar sudah terlihat sejak kecil. Ketika Abdul Hamid kecil diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Abdul Hamid kecil berjumpa dengan Rasulullah S.A.W. secara yaqdhoh (dalam keadaan sadar). Peristiwa itulah yang membuat nama Abdul Mu'thi diganti menjadi Abdul Hamid.

Biografi KH. Abdul Hamid bin Abdullah Umar dan Sejarah Singkat Kehidupannya

Masa-masa Mondok KH. Abdul Hamid

Memasuki usia sekitar 12-13 tahun, Hamid dikirim ayahandanya, K.H. Abdullah Umar, ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud dan tujuan ayahandanya, untuk memperdalam ilmu agama sekaligus meredam kenakalannya.

Berada di pondok kasingan Hamid tidak lama mondoknya. Kira-kira Hamid mondok di kasingan sekitar satu atau satu setengah tahun. Kemudian dia pindah ke Pondok Tremas, Pacitan.
Di pondok tremas yang kala itu dipimpin oleh KH. Dimyathi, cukup besar dan berwibawa. Dari pondok tremas Inilah terlahir banyak kiai besar. Di antaranya adalah KH. Ali Ma'shum Jogjakarta (mantan rais am PBNU), KH. Masduqi Lasem, KH. Abdul Ghofur Pasuruan, KH. Harun Banyuwangi, dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak bisa disebut satu persatu.

Di pondok tremas ini kegemaran Abdul Hamid mengenai sepakbola tidak bisa dihilangkan dan masih terus berlanjut. Akan tetapi dari Pondok Pesantren ini beliau mulai mendapatkan gemblengan ilmu yang sebenarnya.

Seiring keseriusannya memperdalam ilmu pengetahuan agama di Pondok Tremas, asuhan KH. Dimyati, uang kiriman orangtua untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul. Kondisi semacam ini tak membuatnya patah semangat. Hamid tetap betah dan bertahan tinggal di pondok Tremas hingga 12 tahun. Kesabaran dan kebetahan beliau inilah yang mengantarkan pada tingkat keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.

Sesi Pernikahan KH. Abdul Hamid

Setelah menyelesaikan studi di pondok pesantren Tremas selama 12 tahun, abdul Hamid dipinang oleh pamannya sendiri, yaitu KH. Achmad Qusyairi, untuk dinikahkan dengan putrinya, Nyai Nafisah. Konon, Kiai Achmad diberi wasiat oleh ayahnya, KH. Muhammad Shiddiq, agar mengambil Hamid sebagai menantunya, mengingat keistimewaan-keistimewaan yang ada pada dirinya. Di Antara keistimewaan yang ada pada KH. Abdul Hamid pada waktu kecil adalah saat beliau sedang menunaikan ibadah haji, Hamid kecil bisa berjumpa dengan Rasulullah S.A.W. dalam keadaan yaqdhoh (langsung tanpa mimpi). Tapi apalah daya, Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, sang kakek harus kembali terlebih dahulu menghadap sang kholiq, sebelum melihat pernikahan diantara kedua cucunya, yaitu KH. Abdul Hamid dan Ibu Nyai nafisah.

Ketika hendak dilangsungkan akad nikah, dan dalam surat undangan telah tertulis bahwa akad nikah akan dilangsungkan pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya'ban 1359 H, selepas zhuhur pukul 1 di Masjid Jami' (sekarang Masjid Agung Al-Anwar) Pasuruan. Namun, rencana hanya tinggal rencana. Pada waktu dan tempat yang telah ditentukan, para undangan sudah pada datang dan berkumpul di Masjid Jami', namun rombongan iring-iringan penganten pria tak kunjung muncul hingga jam bergerak ke pukul 2. Dengan terpaksa acara yang dijadwalkan melompat ke sesi berikutnya, yaitu walimatul 'ursy di rumah Kyai Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren Salafiyah.

Di kediaman Kyai Achmad Qusyairi, kembali orang-orang dibuat menunggu kehadiran calon mempelai pria. Ternyata, kehadiran rombongan pengantin pria datang sore hari. Setelah acara walimah selesai dan para undangan pulang. "Anu, penganten pria kuajak mampir ke makam (para wali)", kata Kiai Ma'shum, yang dipercaya menjadi kepala rombongan.

Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa dihadiri para undangan dan hanya disaksikan para sanak famili saja.

Romantika Kehidupan KH. Abdul Hamid

Sejak saat itu pula, Haji Abdul Hamid tinggal bersama di rumah mertuanya, Kyai Achmad Qusyairi. Selang waktu Lima atau enam tahun kemudian, Kyai Achmad Qusyairi pindah ke Jember, lalu pindah ke Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini Kyai Hamid bersama istrinya harus berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam bahtera rumah tangga yang baru mereka bina.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup baik diri dan keluarga, Kyai Hamid berusaha dan bekerja apa saja, yang penting halal. Yang beliau geluti untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mulai dari jual beli sepeda, berdagang kelapa, kedelai, bahkan sampai menyewa sawah dan berdagang spare part dokar.

Hari-hari yang mereka lalui adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan lauk tempe panggang, hal ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung beliau yang sudah menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kyai Hamid tak pernah putus asa, dan terus berjuang dan berusaha.

Walaupun beliau menjadi menantu dari Kyai Achmad Qusyairi, namun waktu itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren Salafiyah, meskipun beliau tinggal di kompleks pesantren. Di tengah hidup penuh keprihatinan itu, beliau mulai punya santri dua orang yang di tempatkan di sebuah gubuk di halaman rumahnya. Di luar pondok, Beliau mulai menggelar pengajian di berbagai desa se-kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain.

Sekitar tahun 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang menjadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhirnya. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, beliau yang mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, dari hari ke hari, karena Kiai Aqib yasin kala itu masih muda, masih belajar memperdalam ilmu agama di Lasem.

Fenomenal Kyai Hamid

Dalam membina dan mendidik santri pondok pesantren Salafiyah, kyai Hamid benar-benar berangkat dari titik nol. Karena saat itu tidak ada santri. Para santri yang sebelumnya menyantri di sana, semua boyong karena tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah.
Ketika kepemimpinan di pegang oleh kyai Hamid (sec de facto), walaupun tak ada promosi yang dilayangkan, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangan pondok pesantren memang tidak bisa dibilang cepat melesat, tapi gerak perkembangan itu pasti. Terus bergerak dan merebak, hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri, dan satu-satunya solusi adalah harus dibangun asrama baru, hingga jumlah santrinya mencapai ratusan orang, memenuhi ruang-ruang pondok yang lahannya tak bisa diperluas lagi karena posisi pondok berada di tengah-tengah perkampungan padat penduduk dan tak bisa diperluas karena berhimpitan dengan rumah-rumah penduduk, hingga pada akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal.

Pada fase ini, perkembangan pondok pesantren salafiyah mengalami perkembangan yang fenomenal, begitu pula yang terjadi pada diri pribadi beliau. Dari yang semula hanya dipanggil "haji" lalu diakui sebagai "kyai". Pengakuan dan pengukuhan masyarakat semakin membesar. Semakin hari orang yang datang bertamu Kepada beliau semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja'far As-Segaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritual kyai Hamid) sekitar 1954, sinarnya semakin memancar dan membesar.

Kiai Hamid sendiri mulai dipercaya dan diakui sebagai seorang wali oleh beberapa tokoh kyai kaliber yang semasa dengan beliau dan juga oleh masyarakat beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf  "muttafaqun 'alaih" (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang).

Kisah karomah KH. Abdul Hamid

Berbicara tentang Karomah beliau, sejak waktu kecil memang sudah tampak tanda-tanda bahwa Abdul Hamid bakal menjadi seorang wali dan ulama besar. Konon pada usia sekitar enam tahun, Abdul Hamid kecil sudah ditemui Rasulullah.

Dalam kepercayaan warga NU, khususnya kaum sufi, Rasulullah walau telah wafat, sekali waktu menemui orang-orang tertentu, khususnya para wali. Bukan dalam mimpi saja, tapi dalam keadaan yaqdhoh (secara nyata).

Salah satu karomah Kyai Abdul Hamid yang dipercayai oleh masyarakat Pasuruan adalah bisa berada di tempat yang lain dalam waktu yang bersamaan (memecah belah menjadi lebih dari satu).

Bentuk karomah lainnya yaitu ketika ada salah seorang santri bernama Asmawi, harus melunasi utang kepada panitia pembangunan masjid yang sudah jatuh tempo. Besarnya biaya yang harus dibayarkan kala itu uang sebesar Rp. 300.000. Nominal tersebut sangat besar waktu sekitar tahun 70-an.

Dia tidak tahu lagi dari mana uang sebanyak Itu bisa didapat dalam waktu singkat. Karena masalah tersebut, dirinya hanya bisa menangis, dan sedih, apalagi kalau sampai ditagih, malu setengah mati. Karena sudah buntu mencari jalan keluar, Akhirnya dia mengadukan hal tersebut kepada Kyai Hamid.

Kemudian dengan lembut sang Kiai menyuruh Asmawi untuk menuju pohon kelengkeng yang ada di halaman depan, beliau menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng tersebut dan mengambil daun-daun yang berjatuhan. "daun-daun yang berjatuhan itu bawa kemari," kata Kiai Hamid.

Setelah kyai Hamid menerima daun-daun kelengkeng dari Asmawi, Kial Hamid memasukkannya ke dalam saku baju. Kemudian ditarik keluar, seketika di tangannya tergenggam uang kertas. Kemudian kyai Hamid menyuruh Asmawi melakukan hal sama, tapi pada pohon kelengkeng yang lainnya.

Dengan cara yang sama pula, daun kelengkeng itu berubah menjadi uang kertas. Akhirnya semua uang tersebut diserahkan kepada Asmawi. Setelah dihitung Asmawi, jumlahnya Rp225.000, ternyata masih kurang Rp75.000. Tiba-tiba datang seorang tamu menyerahkan uang tunai Rp75.000 kepada Kyai Hamid, lalu uang itu diserahkan ke Asmawi.

Berbeda pula dengan apa yang dialami Said Ahmad, "santri lainnya". Dirinya justru ingin menguji kewalian Kyai Hamid yang pada waktu itu telah tersiar dan tersebar. Said Ahmad ingin menguji, apakah sang kyai tahu apa yang tersimpan dalam hatinya, apakah  sang kyai tahu bahwa dirinya ingin diberi makan oleh sang kyai.

Ketika dirinya sampai di pesantren milik sang kyai, kebetulan pada saat itu sudah masuk waktu salat lsya. Dia pun ikut salat berjamaah. Usai menunaikan salat, dia tidak langsung pulang, melainkan menunggu sampai jamaah pulang semua.

Malam hampir larut, Lampu teras rumah sang Kyai sudah dipadamkan, pertanda pemilik rumah siap-siap beristirahat. Dengan demikian, niatnya berhasil, 'pikir dia', yaitu bahwa keinginannya untuk ditawari makan tidak diketahui oleh sang Kyai.

Lalu dia pun melangkahkan kakinya meninggalkan masjid, dengan perasaan bangga penuh kemenangan karena maksud hatinya tidak diketahui oleh sang kyai yang katanya seorang wali. Tiba-tiba, remang-remang dari arah rumah Kyai Hamid ada yang melambaikan tangan kepadanya seraya memanggilnya. Dengan langkah ragu, dia pun mendekatinya. Ternyata tuan rumah sendiri yang memanggilnya.
"Makan di sini ya", kata Kyai Hamid sambil senyum. Dia pun diajak masuk ke ruang tengah. Di sana hidangan sudah tersaji. "Maaf, lauknya seadanya", kata Kiai dengan santainya. "Sampeyan tidak bilang-bilang, sih". Said mulai tersindir. Dan sejak kejadian itu dia percaya, Kyai Hamid adalah wali.

Ke-Istiqomahan Kyai Hamid dalam berdakwah

Ketika Kyai Hamid mulai berkiprah di kota Pasuruan, tak sedikit para kyai yang merasa tersaingi. Terutama ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau hanyalah seorang pendatang, bukan penduduk asli kota Pasuruan.

Bahkan ada kyai setempat yang menyebarkan isu dan menuduh bahwa beliau hanya mencari pengaruh yang tujuannya untuk menggerogoti santri mereka. Padahal, Kyai Hamid mengajar di sana atas permintaan penduduk setempat.
Akhirnya, lambat laun beliau dapat menghapus kesan negatif tersebut. Bukan dengan rekayasa atau "politik pencitraan" yang mutakhir, melainkan dengan tindakan dan perbuatan nyata. Dengan tetap istiqomah dan berjalan lurus pada rel dakwah ala salafus sholih, dan dengan sikap tawadhu', kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya oleh semua lapisan masyarakat. Bahkan mereka yang dulunya sempat iri dan menaruh curiga padanya, berganti menjadi penuh hormat pada beliau, hal tersebut justru karena sikap tawadhu' beliau.

Beliau orangnya selalu rendah hati (tawadhu'). Apabila menghadiri suatu acara, beliau lebih memilih duduk di tempat (bersama) "orang-orang biasa", yaitu di belakang, bukan di depan. "Kiai Hamid selalu ndepis (menyembunyikan diri) di pojok", tutur Kyai Hasan Abdillah.

Penuh rasa Hormat

Memberikan penghormatan dan selalu bersikap hormat pada siapapun, dari manapun, ras apapun orang yang bertamu padanya, baik dari kalangan orang miskin sampai orang kaya, dari rakyat jelata sampai yang berpangkat, semua dilayani, semua dihargai, semua dihormati. Misalnya, apabila sedang kedatangan banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua tanpa pilah pilih siapa tamunya, semua sama dalam bentuk penghormatan. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. "Yang paling berkesan dari Kyai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya", pengakuan dari Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.

Beliau sangat hormat dan ta'dzim pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau tak ubahnya sikap seorang santri kepada kyainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sendiri yang sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, seorang ulama sunni kenamaan Mekah (wafat, 29 Oktober 2004), bertamu, beliau sendiri yang melayani dan mengambilkan suguhannya dan memenuhi segala kebutuhannya. Bahkan beliau bercakap-cakap sambil memijatinya. Padahal usia tamunya jauh lebih muda.

Sikap tawadhu' itulah, salah satu di antara rahasia "keberhasilan" beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai para tokoh. Para Kyai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu' beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun terangkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Hal ini sesuai dengan sabda baginda Rasulullah s.a.w., "Barangsiapa bersikap tawadhu', maka Allah akan mengangkatnya".

Penuh kesabaran

Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan dan kelembutan sifatnya, tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat keras dan temperamental itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.

Diantara bentuk sifat sabar Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika didorong oleh seorang santri, bahkan beliau hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Ceritanya pada waktu itu adalah ketika hari sudah larut malam. Ada seorang santri yang  masih belum tidur, akhirnya Beliau berkata "Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah", kata beliau dengan suara halus sekali. Karena perkataan tersebut akhirnya beliau didorong oleh seorang santri yang masih belum tidur tersebut. Mendapati perilaku semacam ini beliau tidak marah walaupun beliau sendiri hampir terjatuh dibuatnya.

Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan yang ada di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. "Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita", kata beliau.

Pada masa awal beliau memimpin Pondok pesantren Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi.

Beliau juga tidak marah ketika seorang yang tidak senang dan hasud pada diri pribadi beliau mencuri daun pintu yang baru dipasang pada bangunan baru di pondok.

Riyadhah dan Mujahadah

Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil mengkikis habis rasa iri dan dengki yang bersemayam dalam hati.

Ketika beliau ditanya mengenai sebuah masalah tertentu, Beliau sering mengarahkan sang penanya untuk bertanya kepada Kyai lain. "Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya", kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kyai di kampung mereka.

Mengenai santri yang berada dan  tinggal di pondok pesantren Salafiyah, beliau tak segan "memberikan" sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.

Meninggalkan menggunjing

Menggunjing atau ngerasani adalah sebuah kebiasaan kebanyakan manusia yang "untuk menjadi lihai dan ahli" tak perlu dipelajari di sebuah sekolahah atau universitas ternama, tanpa dipelajari pun yang namanya menggunjing atau ngerasani, seorang sudah pandai dengan sendirinya. tak luput dari perangkap menggunjing, bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun tak lepas dari jeratan penyakit yang satu ini. Apakah itu menggunjing sesama Kyai yang menjadi saingannya, atau menggunjing orang lain.

Kyai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma'shum berkata, "yang namanya Wali itu ya Kiai Hamid itu. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain".

Manusia Biasa

Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga bagi masyarakat. Tidak hanya di kota Pasuruan tapi juga di kota-kota lainnya. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakat, Beliau adalah cermin kehidupan (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah suri tauladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuji, di mana-mana dibutuhkan orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultus individualkan beliau). Bagaimanapun beliau, beliau tetap manusia biasa (Rasulullah pun manusia biasa), yang harus merasakan kematian.

Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi masyarakat muslim, terlebih lagi masyarakat muslim di kota Pasuruan. Pada hari itu, saat ayam belum berkokok, derai tangis air mata memecah kesunyian dalam rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah. Setelah jatuh sakit karena anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir.

"Inna lillahi wa inna lillahi raji'un"

Derai linangan air matapun pecah membasahi setiap mata orang islam di Pasuruan. Umat pun menangis. Hiruk pikuk kota Pasuruan yang setiap harinya dipenuhi lalu lalang berbagai macam orang seakan terhenti, bisu, oleh duka yang mendalam. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma'shum Jogjakarta, mengangkat tangan "Allahu Akbar" empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu, ya Allah ampunilah dosanya dan rahmatilah beliau. Wallahu A'lam Bishawab.
data:post.title
Seseorang yang lebih suka menulis dan membagikan apa yang di tuliskan agar dunia tahu.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Berlangganan update artikel terbaru via email:

    0 Response to "Biografi KH. Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar dan Sejarah Singkat Kehidupannya"

    Post a comment