Kecerdasan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Karromallahu Wajhahu (semoga Allah SWT memuliakan wajahnya) adalah sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW, karena Sayyidina Ali menikahi Sayyidah Fatimah Az-zahra, putri baginda Nabi. 

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib memiliki keistimewaan yang luar biasa, yaitu kecerdasan. Bisa dikatakan bahwa beliau memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Bahkan kecerdasannya melebihi sahabat-sahabat yang lain. 

Banyak orang yang mengaguminya, bahkan mengagung-agungkannya. Namun, tak sedikit pula yang hasud dan membencinya karena kecerdasannya itu pula. Bahkan sampai ingin membunuhnya

Sayyidina Ali bin Abu Thalib bukan hanya memiliki kecerdasan logis-matematis saja, karena hampir semua bidang beliau kuasai. Kita ambil contoh kecerdasan kinestik. Tidak akan pernah kita temukan informasi Sayyidina Ali kalah dalam adu duet atau pertempuran. Tidak pernah pula Beliau kalah dalam perdebatan atau bantah-bantahan, pun tak ada masalah yang diajukan padanya tanpa jawaban. 

Selain itu, body dan fisik Sayyidina Ali sangat kuat, gagah. Sehingga tidak pernah gentar dalam medan laga peperangan.

Seorang bernama Ibnul Kawa' bertanya kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib  karromallahu wajhahu tentang beberapa hal.

Ibnul Kawa' : "Berapa jarak antara langit dan bumi?"

Sayyidina Ali : "(Jaraknya) doa yang dikabulkan"


Ibnul Kawa' : "Apa rasanya air?"

Sayyidina Ali : "Rasa kehidupan"


Ibnul Kawa' : "Berapa jarak antara timur dan barat?"

Sayyidina Ali : "Seperti perjalanan matahari dalam satu hari"


Ibnul Kawa' : "Siapakah saudara kembar yang dilahirkan di hari yang sama lalu meninggal di hari yang sama, namun umur salah satunya adalah 150 tahun dan umur yang lain 50 tahun?"

Sayyidina Ali : "Mereka adalah Uzair dan Uzrah. Karena Uzair dimatikan 100 tahun lalu dihidupkan kembali"

فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ

"Maka Allah mematikan orang itu (Uzair) seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali."


Ibnul Kawa' : "Daratan mana yang terkena sinar matahari hanya sekali saja"

Sayyidina Ali : "Lautan yang Dibelah oleh Allah untuk Bani Israil"

فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar"


Ibnul Kawa' : "Siapakah manusia yang makan dan minum namun tidak membuang kotoran?"

Sayyidina Ali : "Itu adalah janin"


Ibnul Kawa' : "Apakah sesuatu yang minum disaat hidupnya dan makan disaat matinya?"

Sayyidina Ali : "Itu adalah tongkat musa. Meminum air diwaktu menjadi pohon dan memakan tali-tali tukang sihir ketika menjadi tongkat"


Ibnul Kawa' : "Dimanakah daratan yang menyerap air diwaktu banjir besar di zaman Nabi Nuh as?"

Sayyidina Ali : "Tempat itu adalah Ka’bah karena ia adalah dataran tinggi"


Ibnul Kawa' : "Siapakah yang tertuduh tapi bukan dari golongan jin dan manusia?"

Sayyidina Ali : "Itu adalah serigala ketika saudara-saudara Yusuf menuduhnya (yang membunuh Yusuf)"

وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ

"dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala"


Ibnul Kawa' : "Siapakah yang diberi wahyu namun tidak dari golongan jin dan manusia?"

Sayyidina Ali menjawab dengan ayat:

ﻭَﺃَﻭْﺣَﻰ ﺭَﺑُّﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺤْﻞِ

"Dan Tuhan-mu mewahyukan kepada lebah." (QS. an-Nahl:68)


Ibnul Kawa' : "Dimanakah tempat paling suci dibumi ini yang tidak diperbolehkan solat diatasnya?"

Sayyidina Ali : "Tempat itu adalah punggung ka'bah"


Ibnul Kawa' : "Siapakah delegasi yang bukan dari jin, manusia, malaikat ataupun setan?"

Sayyidina Ali : "Burung Hudhud,

ﺍﺫْﻫَﺐ ﺑِّﻜِﺘَﺎﺑِﻲ ﻫَﺬَﺍ

"Pergilah dengan (membawa) suratku ini" (QS. an-Naml:28)


Ibnul Kawa' : "Siapakah utusan yang bukan dari jin, manusia, malaikat ataupun setan?"

Sayyidina Ali : "Burung gagak.

ﻓَﺒَﻌَﺚَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻏُﺮَﺍﺑﺎً

"Kemudian Allah Mengutus seekor burung gagak" (QS. al-Ma’idah:31)


Ibnul Kawa' : "Satu jiwa di dalam jiwa yang lain, tapi keduanya tidak memiliki kekerabatan dan hubungan saudara?"

Sayyidina Ali : "Itu adalah Nabi Yunus as didalam perut ikan besar (paus)"


Ibnul Kawa' : "Kapan kiamat tiba?"

Sayyidina Ali : "Disaat datangnya kematian dan sampainya ajal"


Mengenai kecerdasan Sayyidina Ali, ada beberapa hikayat yang menceritakan beliau mampu menjawab pertanyaan ibnul kawa' yang pertanyaannya penuh intrik serta memecahkan persoalan matematis logis yang rumit hanya dalam hitungan detik.

Berikut beberapa cerita yang pasti membuat kita tercengang dan terkagum-kagum

Cerita 1. (Si Yahudi)

Satu hari seorang Yahudi datang kepada Sahabat Ali, dia tahu kalau Ali mempunyai kecerdasan lebih. Dia ingin mengajukan pertanyaan yang sulit dan sehingga Ali akan tak mampu menjawabnya. Si Yahudi berpikir dengan itu, dia akan mampu mempermalukan Ali di depan semua ummat.

Dia bertemu dengan Ali bertanya “Yaa Ali, berikanlah kepadaku sebuah angka, yang apabila kita bagi dengan angka 1 – 10, maka hasilnya SELALU bilangan bulat TIDAK PERNAH sebagai pecahan”

Sahabat Ali hanya menatap si Yahudi seraya berkata “Ambillah jumlah hari dalam setahun dan kalikan dengan jumlah hari dalam satu minggu dan Anda akan memiliki jawaban Anda.”

Orang Yahudi sontak kaget tetapi karena dia adalah seorang musyrik, dia masih tidak percaya dengan jawaban tersebut. Kemudian ia menghitung jawaban tersebut, yakni :


Jumlah Hari dalam Tahun Hijriyah = 360 hari

Jumlah Hari dalam Minggu = 7 hari

Perkalian keduanya = 360 x 7 = 2520. lalu


2520 / 1 = 2520

2520 / 2 = 1260

2520 / 3 = 840

2520 / 4 = 630

2520 / 5 = 504

2520 / 6 = 420

2520 / 7 = 360

2520 / 8 = 315

2520 / 9 = 280

2520 / 10= 252

SubhanAllah !!


Cerita 2 (Delapan Roti)

Zarr Bin Hobeish meriwayatkan cerita ini

Dua orang musafir duduk bersama dalam perjalanan ke tempat tujuan mereka untuk makan. Salah satu memiliki lima sisir roti. Satu yang lainnya punya tiga. Di tengah makan ada musafir ketiga yang lewat dan lalu diajak makan keduanya. 

Kedua musafir kemudian memotong motong masing-masing dari roti yang dimiliki keduanya dalam tiga bagian yang sama. Sehingga setiap orang akhirnya akan memakan delapan potong roti dengan ukuran yang sama.

Pada saat ingin melanjutkan perjalanan, orang ketiga mengambil delapan dirham dan memberikan kepada kedua orang tersebut dan pergi. Setelah itu kedua musafir mulai bertengkar tentang pembagian yang paling adil untuk keduanya. 

Musafir pertama (pemilik 5) roti menganggap bahwa dia pantas mendapat 5 dirham, sedangkan Musafir kedua (pemilik 3 roti) menuntut agar uang tersebut dibagi rata (masing2 4 dirham).

Karena tidak menemukan titik temu, sengketa itu dibawa ke Sahabat Ali yang pada saat itu sedang menjadi khalifah Muslim, untuk meminta fatwa.

Setelah mendengar cerita dari keduanya, Khalifah Ali meminta agar musafir yang kedua (pemilik 3 roti) menerima 1 dirham, dan sisanya (7 dirham) diberikan ke musafir pertama (pemilik 5 roti). Tapi musafir kedua menolak, dan bersikukuh bahwa dia hanya mau 4 dirham.

Pada saat Ali menjelaskan, "Wahai fulan (musafir kedua) Anda seharusnya hanya dapat memiliki 1 dirham daripada uang tersebut. Jumlah roti yang kalian makan adalah (5+3)x3 = 24 sisir roti. 3 roti yang Anda miliki dibuat menjadi 9 sisir dan yang Anda makan sendiri adalah 8, sehingga yang Anda berikan untuk musafir ketiga hanyalah 1 potong.

Bandingkan dengan teman Anda, dia mempunyai 5 roti yang dibagi sehingga menjadi 15 buah. Dia makan sendiri 8 sisir dan memberikan 7 potong sisanya untuk musafir ketiga. (5×3)-8=7.

Dengan demikian Anda tidak berhak menerima lebih dari 1 dirham dari uang pemberian tersebut.

Subhanallah..!


Cerita Ketiga (Pembagian Warisan Kepada Istri)

Khalifah Ali suatu saat sedang berkhotbah, kemudian ada yang memutus khotbah beliau untuk menanyakan suatu hal. Yakni, cara membagi warisan bagi seseorang mati dan meninggalkan ahli waris seorang istri, orang tua dan dua anak perempuan. Sahabat Ali langsung menjawab :

"Bagian istri menjadi adalah (1/9) seper sembilan". Kemudian beliau melanjutkan khotbahnya.

Bagaimana datangnya angka (1/9)?

Jawaban ini sebenarnya hasil dari analisis panjang yang harus dilakukan dengan beberapa langkah. Awalnya, kita harus memutuskan pada pembagian asli masing-masing ahli waris, dengan cara yang telah digariskan pada Al Quran sebagai berikut:

يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْٓ اَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِ ۚ فَاِنْ كُنَّ نِسَاۤءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۚ وَاِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۗ وَلِاَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ اِنْ كَانَ لَهٗ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلَدٌ وَّوَرِثَهٗٓ اَبَوٰهُ فَلِاُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَاِنْ كَانَ لَهٗٓ اِخْوَةٌ فَلِاُمِّهِ السُّدُسُ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya memperoleh seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [QS. 4:11]


وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ اَزْوَاجُكُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْنَ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّكُمْ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوْصُوْنَ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ وَاِنْ كَانَ رَجُلٌ يُّوْرَثُ كَلٰلَةً اَوِ امْرَاَةٌ وَّلَهٗٓ اَخٌ اَوْ اُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُۚ فَاِنْ كَانُوْٓا اَكْثَرَ مِنْ ذٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاۤءُ فِى الثُّلُثِ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصٰى بِهَآ اَوْ دَيْنٍۙ غَيْرَ مُضَاۤرٍّ ۚ وَصِيَّةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَلِيْمٌۗ

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak.

Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. [Qur'an 4:12]


Menurut kaidah tersebut, perhitungannya akan menjadi : 1/8 + 1/6 + 1/6 + 2/3 = 3/24 + 4/24 + 4/24 + 16/24 = 27/24


Perhitungan diatas menunjukkan bahwa jumlah yang diberikan kepada istri akan kurang dari 1/8. Nah cara untuk mengeluarkan bagian istri adalah dengan mengeluarkan 1/8 nya yang berarti 3 dari total 27, yang itu berarti 1/9.


Daya pikiran Imam Ali melewati proses matematika yang kompleks dalam hitungan detik! Pantaslah apabila Rasul Muhammad SAW pernah bersabda (yang saya terjemahkan dengan bebas) : “Aku adalah kotanya Ilmu, sedangkan Ali adalah pintu-pintunya"

"Shollu 'alannabi Muhammad...."

"Allahumma Sholli Wa Sallim 'Ala Sayyidina Muhammad"

Sumber Cerita Kaskus

data:post.title
Seseorang yang lebih suka menulis dan membagikan apa yang di tuliskan agar dunia tahu.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Berlangganan update artikel terbaru via email:

    0 Response to "Kecerdasan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu"

    Post a Comment