Makna Dzarrah dalam al-Qur'an dan Hadits

Kata dzarrah yang terdapat dalam al-Qur'an dan Hadits memiliki berbagai macam makna, para kiai di pesantren kalau memberikan arti biasanya beragam, ada yang mengartikannya dengan biji bayam, semut hitam, butiran debu, atom dan lain-lain.

Untuk yang memaknai dengan atom, ini sudah agak modern, kalau kiai-kiai dahulu memaknai dzarrah kalau tidak semut hitam, ya butiran debu atau malah biji sawi atau bayam. 

Untuk makna biji sawi atau bayam, ini tidak lain hanyalah kebijakan lokal sang kiai dalam memberikan pemahaman makna pada murid-muridnya. (mana ada dulu di arab sawi atau bayam)

Inti dari makna dzarrah yang disajikan dengan ungkapkan beragam versi ini tidak lain adalah untuk memberikan pemahaman bahwa yang dimaksud adalah satuan yang sangat kecil, ringan, sepele, remeh dan lain sebagainya. 

Dalam kitab Tafsir Al-Wasith, ibnu Abbas pernah ditanya tentang makna dzarrah. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam pasir lalu meniupkannya, seraya berkata:

كل من هؤلاء مثقال ذرة

Semua ini (Setiap butiran debu yang beterbangan akibat tiupanku) adalah dzarroh. 

Dalam al-Qur'an Allah berfirman:


فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره

"Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah(u)"

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya


ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره

"Wa man Ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah(u)"

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula


Amal baik, amal buruk seberat dzarrah pun, semua akan ada balasannya.

Perbuatan baik "ketaatan" yang dalam pandangan kita, kita anggap remeh, lakukanlan. sebaliknya perbuatan buruk "kemaksiatan" yang sekecil apapun haruslah kita jauhi. Karena semua itu nanti ada balasannya. 

HadroturRosul pernah bersabda


لاَ تَحْقِرنَّ مِنَ المَعرُوفِ شَيئًا

"laa tahqironna minal ma'ruufi syai-an"

Jangan pernah sekali-kali meremehkan kebaikan sedikit pun.


Dari hadits di atas sudah terkandung perintah kebalikannya (mafhum muwafaqoh) yaitu Jangan pernah sekali-kali meremehkan keburukan "kemaksiatan" sedikit pun.

Dalam sebuah riwayat HadhroturRosul pernah bershodaqoh hanya dengan satu biji kurma. Tidak lebih. 

Akhirnya sang penerima kurma tersebut mencibir pemberianya dengan berkata:

نبي من الأنبياء يتصدق بتمرة؟

Maknanya Kurang lebih begini: masak seorang Nabi hanya bershodaqoh dengan sebiji kurma? 


Nabi Muhammad menjawab:

أما علمت أن فيها مثاقيل ذرة كثيرة

Apa kamu tidak tahu bahwa sebiji kurma itu sudah mencapai sekian kali lipat berat dzarroh. 

Kita semua sudah tahu bahwa berbuat baik akan mendatangkan kebaikan dan orang yang kita beri kebaikan tentu akan menyukainya. Tapi ingat, jangan sampai karena memandang remeh kebaikan yang kita berikan menghalangi kita untuk berbagi dan memberi kebaikan. 

Kita ambil contoh shodaqoh, jangan karena memandang item yang akan kita sedekahkan remeh, lalu kita tidak jadi bersedekah. Bisa jadi sedekah yang kita anggap remeh malah menjadi sesuatu yang berharga bagi orang lain atau malah sebaliknya, yaitu kita malah mendapat cibiran. Tapi itu semua tidak penting, yang terpenting adalah kita sudah berbuat kebaikan "ketaatan" dan kita tidak meremehkan kebaikan tersebut walaupun kebaikan tersebut sebesar dzarrah.

data:post.title
Seseorang yang lebih suka menulis dan membagikan apa yang di tuliskan agar dunia tahu.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Berlangganan update artikel terbaru via email:

    0 Response to "Makna Dzarrah dalam al-Qur'an dan Hadits"

    Post a Comment