Always Be Positive Thinking Meraih Rahmat Allah

Kita sering diberi nasehat bahwa Rahmat Allah Begitu Luas Dan Meliputi Segala Sesuatu. Nasehat ini benar adanya dan mengajarkan kita agar Always Be Positive Thinking dalam Meraih Rahmat Allah. Namun setan yang sering masuk ke dalam hati kita sering kali membuat kita was-was dan ragu-ragu akan kemurahan dan kasih sayang Allah kepada kita sehingga tertanam dalam benak kita bahwa rahmat Allah sulit diperoleh.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Olah Ibnu mas’ud, Rasulullah tak kurang-kurang memberikan motivasi agar kita selalu (Always) Be Positive Thinking terhadap Rahmat Allah

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْفَاجِرُ الرَّاجِى لِرَحْمَةِ اللهِ أَقْرَبُ مِنْهَا مِنَ الْعَابِدِ الْمُقْنِطِ

Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud radliyallahu anhu ia berkata; Rasulullah SAW bersabda; “Orang yang berbuat dosa yang senantiasa mengharapkan rahmat Allah, dia lebih dekat dengan rahmat Allah daripada orang yang ahli ibadah yang berputus asa”.

Ibn Mas’ud berkata; Zaid bin Aslam mengabarkan kepadaku riwayat dari sayyidina Umar bahwa seorang laki-laki yang hidup di zaman umat terdahulu bersungguh-sungguh dalam beribadah, namun dia membuat orang-orang berputus asa dari rahmat Allah Taala. Kemudian setelah mati dia berkata; “Wahai Tuhanku! Apa yang harus aku terima dari-Mu?”

Allah Taala menjawab; “Neraka”.

Dia berkata; “Wahai Tuhanku! Dimanakah ibadah dan kesungguhanku?”

Allah Taala menjawab; “Sesungguhnya ketika di dunia engkau telah membuat orang-orang berputus asa dari rahmat-Ku, maka pada hari ini Aku memutusmu dari rahmat-Ku”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Nabi shallallahu alaihi wasallam; “Ada seorang laki-laki pada masa sebelum kalian, dia sama sekali tidak pernah beramal satu kebaikan pun selain tauhid, maka ketika ajal hendak menjemputnya dia berpesan kepada keluarganya: “Jika aku mati hendaklah kalian membakarku dan membiarkanku hingga menjadi arang, kemudian tumbuklah aku lalu sebarkan (abu ku) di lautan saat angin bertiup kencang”.

Ketika ajal benar-benar telah menjemputnya, keluarganya melaksanakan pesannya.

Lantas ketika dia telah berada dalam genggaman Allah Taala, Allah berfirman; “Wahai anak Adam apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?”

Dia menjawab; “Wahai Tuhanku, aku melakukan hal itu karena aku takut kepada-Mu“.

Maka kemudian Allah mengampuninya karena rasa takut tersebut, padahal dia sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan baik kecuali tauhid.

Dari kisah di atas, hendaknya kita Always Be Positive Thinking terhadap rahmat Allah yang begitu luas yang menjangkau segala sesuatu.

Kisah Israiliyat

Ada sebuah kisah yang menarik untuk kita simak yang berkaitan dengan hadits di atas, bahwa pada zaman dahulu kala ada seorang laki-laki fasik mati. (kejadian ini terjadi di zaman Nabi Musa as). Lantaran kefasikannya, akhirnya masyarakat enggan untuk memandikan dan menguburnya jenazahnya. kemudian Mereka menyeretnya dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah.

Kemudian Allah Taala memberikan wahyu kepada Nabi Musa as dan berkata “wahai Musa! Telah mati seorang laki-laki di kampung fulan, di tempat pembuangan sampah, dia adalah salah seorang wali dari wali-wali-Ku dan masyarakat di kampungnya enggan untuk memandikan, mengafani dan menguburkannya. Pergilah engkau di sana, mandikanlah, kafanilah, shalatilah dan kuburlah dia.

Karena mendapat perintah tersebut, Nabi Musa pergi ke kampung tersebut dan menanyakannya kepada masyarakat setempat perihal laki-laki tersebut. lalu masyarakat kampung menjawab; “Telah mati seorang laki-laki yang sifatnya begini dan begini, dan dia termasuk orang yang jelas-jelas fasik” .

Nabi Musa kemudian bertanya; Di mana dia sekarang?, karena sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepada saya tentang laki-laki tersebut.

Lalu mereka menunjukkannya. Setelah melihatnya terbuang di tempat sampah dan orang-orang telah mengabarkan tentang buruk perilaku dan perangainya, Nabi Musa menjadi bingung. Kemudian Nabi Musa bermunajat kepada Tuhannya dan berkata; “Wahai Tuhanku! Engkau telah memerintahkanku untuk menshalati dan mengukuburnya, sementara masyarakat sekitarnya bersaksi atas keburukan perilaku dan perangainya, dan Engkau mengetahui mereka semua, baik yang terpuji maupun yang tercela“.

Lalu kemudian Allah Taala menurunkan wahyu kepadanya; “Wahai Musa! Benar apa yang diceritakan masyarakat tentang perbuatannya, hanya saja ketika ajal menjemputnya, dia memohon syafaat kepada-Ku dengan tiga macam perkara yang sekiranya seluruh orang-orang yang berdosa dari makhluk-Ku memohon dengannya aku akan mengabulkannya. Bagaimana mungkin Aku tidak akan menyayanginya sedangkan dirinya benar-benar memohon kepada-Ku dan Aku adalah maha penyayang di antara para penyayang.

Nabi Musa berkata; “Wahai Tuhanku, apakah tiga perkara itu?

Allah Taala menjawab; “Ketika kematian menghampirinya, dia berkata;

  1. Wahai Tuhanku! Engkau maha tahu daripada aku. Sesungguhnya aku berbuat maksiat dan aku benci terhadap kemaksiatan. Akan tetapi pada diriku terdapat tiga perkara sehingga aku melakukan kemaksiatan di balik hatiku yang benci terhadap kemaksiatan yaitu; Hawa nafsu, teman yang buruk pakertinya dan iblis semoga Allah melaknatinya. Tiga perkara inilah yang menjerumuskanku ke dalam kemaksiatan. Sesungguhnya Engkau maha mengetahui daripada aku, maka ampunilah aku.
  2. Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau maha mengetahui bahwa aku melakukan kemaksiatan dan keberadaanku bersama orang-orang fasik. Akan tetapi aku lebih suka bergaul dengan orang-orang shalih, cinta akan ke zuhudannya dan berkumpul bersama mereka lebih aku cintai daripada orang-orang fasik.
  3. Wahai Tuhanku! Sesungguhnya Engkau maha mengetahui daripada aku bahwa orang-orang shalih itu lebih aku cintai daripada orang-orang fasik hingga sekiranya ada dua orang yang menghadap kepadaku, yang satu orang shalih dan yang satu lagi orang tholih (fasik) nisacaya aku lebih mendahulukan kepentingan orang shalih daripada kepentingan orang thalih”.

Dalam riwayat Wahb bin Munabbah. Laki-laki itu berkata;

يا رب لو غفرت وغفرت ذنوبي يفرح أولياؤك وأنبياؤك ويحزن الشيطان عدوي وعدوك, ولو عذبني بذنوبي يفرح الشيطان وأعوانه ويحزن الأنبياء والأولياء وإني أعلم أن فرح الأولياء إليك أحب من فرح الشيطان وأعوانه فاغفرلي, اللهم إنك تعلم مني ما أقول فارحمني وتجاوز عني.

(Wahai Tuhanku! Sekiranya Engkau memberi ampunan dan mengampuni dosa-dosaku niscaya wali-wali-Mu dan Nabi-Nabi-Mu akan bahagia, dan syaithan musuhku dan musuh-Mu akan bersedih. Namun sekiranya Engkau menyiksaku lantaran dosa-dosaku niscaya syaithan dan pasukannya akan bahagia dan para Nabi dan Para wali akan bersedih, sesungguhnya aku tahu bahwa membabahagiakan para wali lebih Engku cintai daripada membahagiakan syaithan dan pasukannya, maka ampunilah aku. Ya Allah! Sesungguhnya Engkau lebih tahu daripada aku terhadap apa yang aku ucapkan, maka sayangilah aku dan ampunilah aku).

Baca Juga Hikmah Kasih Sayang Terhadap Semua

Allah Taala berfirman; “Karena Inilah, lantas Aku menyayanginya, mengampuni dan membebaskannya. Sesungguhnya Aku maha pengasih lagi maha penyayang, lebih-lebih kepada orang yang mengakui dosa-dosanya di hadapan-Ku. Dan laki-laki ini telah mengakui dosa-dosanya, maka Aku mengampuni dan membebaskannya. Wahai Musa! Laksanakanlah apa yang telah Aku perintahkan kepadamu, karena sesungguhnya Aku akan mengampuni orang yang menshalati dan mengubur janazahnya berkat kemuliaannya”.

Nah, dari kisah di atas, hendaknya kita selalu yakin dan percaya dan tetap Always Be Positive Thinking terhadap rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah Dzat yang maha pengasih serta maha Pemurah.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan