Bolehkah I’tikaf di Mushola atau di dalam rumah?

I’tikaf di Mushola dan Rumah

Ada sebuah pertanyaan “Bolehkah kita melakukan i’tikaf di Mushola atau di dalam rumah yang memang di dalamnya ada tempat khusus (mihrab) untuk beribadah?” Sebelum kita membahas lebih jauh tentang hukum I’tikaf di Mushola dan di rumah, ada baiknya kita definisikan terlebih dahulu apa itu i’tikaf?

I’tikaf secara bahasa berarti mengasingkan diri, berdiam diri atau tetap tinggal di. Sedangkan yang dimaksud i’tikaf secara istilah secara istilah adalah berdiam diri di dalam masjid dengan memenuhi rukun dan syarat-syarat tertentu semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt.

Jika kita mengartikan itikaf secara bahasa yang berasal dari kata “akafa” yang bermakna “memenjarakan diri”. Berarti i’tikaf memiliki arti aktivitas ibadah dengan memenjarakan diri di dalam masjid. Kegiatan orang yang beri’tikaf adalah menyibukkan diri dengan pelbagai ibadah baik sholat, zikir, maupun membaca Al-Qur’an.

Rukun I’tikaf

Menurut pendapat dari madzhab Imam Syafi’i bahwa rukun i’tikaf ada 4. Yaitu:

  • Mu’takif/orang yang i’tikaf,
  • Masjid,
  • Niat,
  • Berdiam diri walaupun sebentar.

Dari Masing-masing keempat rukun tersebut, punya syarat-syarat tersendiri.

Apakah boleh i’tikaf di Mushola atau di dalam rumah?

Jawabannya “tentu tidak boleh (tidak sah)

Dalam syarat yang disebutkan di atas bahwa Masjid merupakan rukun i’tikaf sehingga apabila seseorang melakukan i’tikaf di dalam rumah maka hukumnya tidak sah. Sahnya i’tikaf adalah apabila dilakukan di dalam masjid, Baik laki maupun perempuan.

Bagaimana kalau di dalam rumah tersebut ada kamar khusus (mihrob) untuk  salat atau beribadah?

Hukumnya tetap tidak sah walaupun di dalam ruangan tersebut ada kamar khusus (mihrab) untuk salat atau beribadah.

Alasannya adalah karena kamar khusus untuk shalat tersebut bisa saja berubah Jadi kamar lain yang bukan khusus untuk sholat. Di samping itu, orang junub boleh berdiam diri dan duduk santai di Tempat khusus tersebut.

Berbeda halnya dengan masjid yang memang di khususkan untuk shalat dan beribadah. Dan orang junub tidak diperkenankan untuk berdiam diri didalam masjid.

Hal ini berdasarkan firman Allah:

ﻭﻻ ﺗﺒﺎﺷﺮﻭﻫﻦ ﻭﺃﻧﺘﻢ ﻋﺎﻛﻔﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟد ‏ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : ١٨٧

Ayat tersebut di atas memberi pengertian bahwa masjid adalah syarat sah nya i’tikaf, bukan syarat pelarangan jima’. Karena orang yang sedang beri’tikaf dilarang berjima’ di bagian dalam masjid maupun di bagian luarnya.

I’tikaf di masjid biasa atau Masjid Jami’?

I’tikaf boleh dilakukan di setiap masjid, masjid manapun. Akan tetapi melakukan i’tikaf di masjid jami’ (masjid yang digunakan untuk mendirikan shalaht jumatan) hukumnya lebih utama Dan lebih afdhol.

Di negara-negara arab, penyebutan masjid beda dengan negara kita di Indonesia. kita di indonesia menyebut tempat sholat selain masjid jami’, kita sebut dengan sebutan musholla/langgar/tajug atau surau.

Kalau di arab, semua tempat sholat namanya masjid, mau besar mau kecil, semua sama, namanya masjid. Yang membedakan hanyalah digunakan untuk sholat jum’at (jum’atan) atau tidak. Kalau digunakan untuk jum’atan, maka namanya masjid jami’. Sedangkan masjid yang tidak digunakan untuk sholat jum’at (jumatan) namanya masjid furudh (masjid yang hanya digunakan untuk sholat-sholat fardhu selain jum’at yang kalau di Indonesia disebut musholla/langgar/tajug atau surau).

Nah dari penjelasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa sah hukumnya i’tikaf di musholla/langgar/tajug ataupun surau, hanya saja yang lebih afdhol adalah i’tikaf dimasjid jami’.

Baca juga Kehilangan Sandal Di Masjid, Bagaimana Solusinya

Jadi, kalau mau sholat di rumah, tahajjud, munajat dan berkholwat ya silahkan, akan tetapi hal itu tidak dikatakan i’tikaf secara syar’i.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan