Hukum Mencium Tangan, Sunnah atau Haram?

Mencium tangan orang tua, Kiai atau guru dan orang yang mulia atau orang yang kita mulaikan sudah menjadi tradisi di negara kita, lalu bagaimana Hukum Mencium tangan, Sunnahkah atau malah haram?

Mencium tangan orang tua, kiai, guru dan orang mulia tidak lain adalah sebuah adab dan bentuk tata krama kita kepada mereka, namun apakah perbuatan ini disyariatkan dan memiliki hujjah, baik hujjah hadits Nabi SAW maupun atsar sahabat dan salafus shalih?

Berikut ini kita kemukakan dalil-dalil tentang kebolehan mencium tangan, bahkan mencium tangan ketika bersalaman adalah disyariatkan dalam islam.

Akan kita kemukakan pula dalil-dalil dari golongan yang melarang mencium tangan serta akan kita kupas. Selain itu akan sertakan jawaban terhadap mereka yang melarang mencium tangan ketika bersalaman (berjabat tangan kepada orang tua, kiai atau guru serta orang yang mulia dan kita muliakan).

Di sini akan kami sajikan masing-masing dalil yang menjadi sandaran bagi masing-masing kelompok, baik kelompok yang menyatakan mencium tangan adalah sunnah karena disyariatkan serta dalil dari kelompok yang melarang mencium tangan saat bersalaman, bahkan bagi mereka yang mengharamkan.

Selain itu, akan kita sertakan pula pendapat para ulama seputar hadits yang menjadi rujukan dari kedua belah pihak, baik dari segi kekuatan dan akurasinya.

Dalil-dalil yang memperbolehkan cium tangan

Mencium Tangan Rasulullah SAW

1. Dari Mazidah Al-‘Ashry RA: “Pada saat kami sedang bersama Rasulullah SAW, beliau SAW besabda: “Akan datang satu rombongan, mereka adalah orang-orang terbaiknya ahlul masyriq”. Sayyidina Umar bin khattab RA lalu berdiri dan keluar. Tiba-tiba datanglah 13 orang yang menaiki kendaraan (kuda/onta/ keledai).

Lalu Umar RA bertanya “siapa kalian?”.

Mereka menjawab “kami rombongan dari abdul qois”.

Lalu Umar RA bertanya lagi “apa tujuan kalian datang kemari? apakah mau berdagang?”.

Mereka menjawab “tidak”.

Lalu umar RA meneruskan pertanyaannya “apakah kalian mau menjual senjata/pedang ini?”.

Mereka menajwab “tidak”.

Lalu Umar RA melanjutkan “atau mungkin kalian ingin bertemu Rasulullah SAW?”.

Mereka menjawab “ya”.

Lalu Umar RA berjalan bersama mereka menuju Rasulullah SAW. Sambil menunjuk ke arah Rasulullah SAW. Kemudian Sayyidina Umar RA berkata “apakah beliau yang kalian cari?”.

Ketika mereka melihat Rasulullah SAW mereka langsung turun dari kendaraan mereka, lalu mereka menuju Rasulullah SAW. Diantara mereka ada yang menuju Rasulullah sambil berlari, berjalan biasa dan juga ada yang berjalan cepat.

Setelah sampai dihadapan Nabi SAW, satu persatu dari mereka mencium tangan mulia baginda Nabi SAW lalu duduk.

Ada satu orang dari anggota rombongan tersebut bernama Asyajj (orang yang paling muda dalam rombongan tersebut). Ia menuntun ontanya, lalu menambatkannya serta menata dan mengumpulkan barang-barang bawaan rombongan. Setelah usai membereskan semuanya, ia lalu bergegas menuju Rasulullah SAW dan mencium tangan mulia Baginda Nabi SAW

(HR. Ibnu Al Muqry dalam kitab Ar Rukhshoh fî taqbil Al Yadd, hal ; 66, Abu Ya’la dalam Musnad Abi Ya’la 12/245, At Thobrony dalam Al Mu’jam Al Kabîr 20/345). Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bary 11/57 menilai hadits ini sanadnya Jayyid.

2. Dari Az Zâri’ Al Abdy RA: “Ketika kami sampai di madinah, maka kami segera turun dari kendaraan kami lalu bergegas menuju Rasulullah SAW lalu kami mencium tangan dan kaki mulia Rasulullah SAW”.

(HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud 2/778). Riwayat ini juga dinilai Jayyid sanadnya oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bary nya 11/57.

3. Dari Usamah bin Syureik RA: “Kami berdiri lalu menuju Nabi SAW, kami pun mencium tangan mulia Rasulullah SAW”.

(HR. Ibnu al Muqry dalam Ar rukhshoh fî taqbil Al Yadd, hal : 58). Al Hafidz Ibnu Hajar menilai riwayat ini dengan sanad Qowiyy/kuat. Lihat Fathul Bary 11/57

4. Dari Shofwan bin ‘Asal RA “ada dua orang yahudi datang kepada Nabi SAW dan bertanya tentang sembilan ayat. hingga sampai diakhir hadits فقبلا يده ورجله…Mereka berdua mencium tangan kaki Nabi SAW”.

(HR. Ahmad 4/239, An Nasa-i 7/111, Ibnu Majah 2/1221, Ibnu Al Muqry dalam kitab Ar Rikhshoh fii taqbil Al Yad, hal:61, Al Hakim dalam Al-Mustadrok 1/52 dan At Tirmidzi 5/77). Imam At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut Hasan Shohih. Imam Hakim menilainya Shohih dan didukung juga oleh Al Hafidz Adz Dzahabi. Sementara Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab At Talkhish Al Habîr 4/93 mengatakan bahwa sanad hadits di atas kuat.

5. Hadits panjang dari Abdullah bin Umar RA yang pulang dari sariyyah (peperangan dimana Nabi SAW tidak ikut serta)…sampai diakhir haditsnya sebagai berikut:

فجلسنا لرسول الله صلى الله عليه وسلم قبل صلاة الفجر ، فلما خرج قمنا إليه، فقلنا : نحن الفرارون، فأقبل إلينا فقال : لا بل أنتم العكارون . قال إبن عمر : فدنونا فقبلنا يده، فقال : أنا فئة المسلمين.

Maka kemudian kami duduk sebelum sholat subuh menunggu Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW keluar, kamipun berdiri dan kami berkata: “Ya Rasulallah, kami adalah orang-orang yang lari dari peperangan” Lalu Rasulullah SAW menemui kita dan berkata: “Tidak..! Kalian adalah orang-orang yang akan kembali berperang”. Ibnu Umar RA berkata: “Lalu kami mendekat ke Rasulullah SAW dan kami mencium tangan mulianya. Nabi SAW berkata: “Saya adalah kelompok kaum muslimin”.

(HR.Ahmad 2/70,Bukhori dalam Adab Al Mufrod,hal;338,Abu Dawud 2/52 dan Ibnu Majah 2/1221).

Kata العكارون maknanya adalah الكرارون إلى الحرب artinya orang-orang yang siap kembali berperang atau bolak balik / sering perang . (Lisan Al ‘Arob karya Ibnu Al Mandzur 4/599).

Selanjutnya kita akan melihat bagaimana atsar sahabat terkait masalah ini, Mereka adalah para sahabat dan mereka murid yang secara langsung dididik oleh Rasulullah SAW, berkhidmah, melihat dan mendengar serta bersosialisasi secara langsung dengan Baginda Nabi SAW. Bagaimana pula interaksi mereka dengan para murid dari generasi selanjutnya (tabi’in), khususnya dalam  hal cium tangan, lalu hal ini terus menerus hingga berlanjut sampai generasi-generasi setelahnya.

Mencium Tangan Dari Kalangan Sahabat

1. Dari Shuhaib Maula Abbas RA berkata: “Aku melihat Sayyidina Ali bin Abi Tholib RA mencium tangan dan kaki Sayyidina Abbas RA, seraya berkata: “Wahai paman, ridhoilah dan maafkanlah aku”. (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod, hal : 339 dan Ibnu Al Muqry dalam Ar Rukhshoh fii Taqbil Al Yad, hal : 73). Menurut Al Hafidz Al Imam Ibnu Hajar, sanad riwayat ini adalah JAYYID. (lihat Fathul Bary 11/57).

2. Dari Ziyad bin Fayadh, dari Tamim bin Salamah RA berkata: “Ketika Sayyidina Umar RA datang ke Syam, beliau disambut langsung oleh Abu Ubaidah Al Jarroh (komandan pasukan perang yang ditunjuk Khalifah Umar RA dalam penaklukan syam). Abu Ubaidah RA mencium tangan Sayyidina Umar RA, lalu keduanya sama menangis”. Tamim bin Salamah RA berkata: “Mencium tangan adalah sunnah”. (HR.Ibnu Wahb dalam Al Jami’ 1/259, Ibnu Abi Ad Dunya dalam kitab Al Ikhwan, hal : 182 dan Al Baihaqy dalam Sunan Al Kubronya 7/11).

3. Dari Malik Al Asyja’i RA berkata: “Aku berkata kepada Ibnu Abi Aufa RA: “Berikan tanganmu yang dulu pernah berbai’at kepada Rasulullah SAW”. Lalu Ibnu Abi Aufa RA mengulurkan tangannya dan tangan tersebut dicium oleh Malik Al Asyja’i RA. (HR Ibnu Al Muqry dalam Ar Rukhshoh fii taqbil Al Yadd, hal : 89).

Disamping sebagai dalil tentang cium tangan, riwayat ini bisa dijadikan hujjah tabarruk atau ngalap berkah karena tangan Ibnu Abi Aufa RA pernah menyentuh dan bersalaman langsung dengan Rasulullah SAW saat berbaiat, sehingga hal itu yang menjadikan Malik al Asyja’i mencium tangan ibnu Abi Aufa RA.

4. Dari Tsabit Al Bunnany RA, ia berkata kepada Anas bin Malik RA: “Bukanlah tanganmu dulu pernah menjabat tangan mulia Rasulullah SAW?”. Anas bin Malik RA menjawab: “Ya”. Kalau begitu berikan tanganmu. Kemudian Tsabit mencium tangan Sayyidina Anas bin Malik RA. (HR Bukhori dalam Adabul Mufrod, hal : 338).

5. Dari Abu kholid dari Atho bahwa para sahabat biasa mencium tangan Rasulullah SAW. (HR. Ibnu Abi Ad dunya dalam kitab Al Ikhwan, hal : 198). Menurut Hisyam Bin Muhammad Haijar Al Hasany, semua perawi hadist ini tsiqah atau terpercaya.

6. Dari Musa bin Dawud berkata: “pada suatu ketika aku sedang bersama Sufyan bin ‘Uyainah, lalu datanglah Husain Al Ju’fy. Kemudian Sufyan bin ‘Uyainah  berdiri dan mencium tangan Husein Al Ju’fy. (Lihat Tahdzib Al Kamal 6/452).

Pendapat Kibarul Ulama

  • Imam Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah berkata:

تقبيل يد الإمام العادل سنة

“Mencium tangan pemimpin yang adil adalah sunnah”. (Ar Rukhshoh fii taqbiil Al Yadd lil Imam Ibnu Al Muqry, hal : 70).

Hal yang sama juga disebutkan oleh Imam Sufyan Ats Tsaury Rahimahullah. (lihat kitab Al Wara’ Lil Imam Ahmad bin Hanbal,hal;144).

  • Dalam kitab Ghoyatul Bayan ‘an Al Wâqi’ât ada teks berikut:

تقبيل يد العالم أو السلطان العادل جائز

“Mencium tangan orang alim atau pemimpin yang adil diperbolehkan”.

  • Imam Az Zaila’iy Al Hanafy Rahimahullah dalam kitab Al Bahr Al Rô-iq berkata: “Imam As Sarkhosy dan sebagian ulama mutaakhkhirin dari madzhab Hanafy memperbolehkan mencium tangan ulama yang wara’ dan zuhud dengan tujuan tabarruk atau ngalap berkah. (lihat Al Bahr Al Rô-iq Syarh Katr Ad Daqô-iq karya Az Zaila’i, 8/266). Dalam kitab yang sama juga disebutkan oleh Imam Ibnu Najim Al Hanafy tentang pembolehan mencium tangan ulama dan pemimpin yang adil, karena mengikuti pendapat ulama salaf Sufyan bin ‘Uyainah yang mengatakan bahwa mencium tangan ulama dan pemimpin yang adil adalah sunnah. (Al Bahr Ar Rô-iq li Ibn Najim 8/221).
  • Imam Ibn Bathol Al Maliky Rahimahullah berkata: “Makruh hukumnya mencium tangan orang dzolim dan pemimpin yang tidak baik. Sedangkan mencium tangan ayah ibu, orang sholih dan orang yang diharap keberkahannya, maka hukumnya boleh”. (lihat Kifayah At Tholib Al Robbany li risalah Ibn Abi Zaid Al Qoirwany li abi Al hasan Al Maliky 2/621).
  • Imam Al Syihab Al Qorrofy Al Maliky Rahimahullah berkata:

فتقبيل اليهود ليديه ورجليه عليه الصلاة والسلام ولم ينكره دليل على مشروعيته

“Menciumnya orang yahudi terhadap tangan dan kaki Nabi SAW, dimana Nabi SAW tidak melarangnya, hal ini menjadi dalil disyariatkan mencium tangan dan kaki”. (Al Furuq lil Qorrofy 4/434).

Tulisan berikutnya kita akan melihat bagaimana para ulama menjawab pernyataan sebagian kalangan yang melarang bahkan mengharamkan cium tangan dengan berdasarkan beberapa hadits yang dijadikan hujjah mereka. Bagaimana takhrij dan kekuatan hadits-hadits tersebut menurut muhadditsin.

Riwayat Pelarangan Mencium tangan

Di atas adalah dalil-dalil tentang legalitas dan kesunnahan cium tangan, baik dari hadits-hadits Nabi SAW maupun atsar para sahabat dan juga para salafus shalih.

Bagaimana pendapat mereka yang melarang cium tangan dengan berdasarkan beberapa hadits di bawah ini. Penjelasan ini sekaligus menjadi jawaban dari para ulama tentang validitas dan akurasi hadits yang dijadikan hujjah mereka.

1. Hadits dari Anas RA, ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW: “Ya Rasulallah, jika ada seorang dari kami berjumpa dengan teman atau saudaranya, apakah boleh membungkukan badan?

Nabi SAW menjawab: tidak boleh.

Lalu lelaki itu bertanya lagi, bolehkah mencium tangannya?.

Nabi SAW menjawab: Tidak boleh.

Lalu lelaki itu bertanya kembali: Bolehkah kami menjabat tangannya (bersalaman)?”.

Nabi SAW menjawab: Ya boleh.

2. Hadits dari Abu hurairah RA, beliau melihat seseorang hendak mencium tangan Rasulullah SAW, tapi Nabi SAW menepisnya, lalu bersabda: “Ini adalah kebiasaan yang dilakukan oleh kalangan ajam (luar arab) kepada para rajanya. Sedangkan aku bukanlah raja. Aku sama dengan kalian”.

3. Hadits dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: Qublatul mukmini akhôhu al mushôfahah” mencium tangan seorang mukmin kepada saudaranya adalah berjabat tangan”.

Status Hadits

  • Hadits Anas RA riwayat Ahmad (Musnad 3/198) dan At Tirmidzi (As Sunan 5/75). Hadits tersebut dianggap lemah. Illat kelemahannya katena terdapat perowi bernama Handzolah bin Ubaidillah As Sadusy yang dinilai dhoif oleh Ibnu Mu’in. Imam Ibnu Al Qoththon menhukuminya Matruk. Begitupun dengan Imam Ibnu ‘Ady menilai Handzolah ini sering sering terjadi ikhtilath dalam riwayatnya, hingga terjadi kesalahan bahkan hingga pada titik nilai mungkar.

Imam Ibnu Hibban sebelumnya menilai Handzolah ini perawi tsiqah. Namun akhirnya Imam Ibnu Hibban merevisi penilaiannya dan memasukannya sebagai perawi yang cacat dalam kitabnya Al Majruuhin. (lihat dalam Ar Tarikh Al Kabir Imam Bukhori 3/43, Al kamil karya Ibnu ‘Ady 2/422, Ats tsiqah karya Ibnu Hibban 4/167 dan Al Majruhin karya Ibnu Hibban 1/266).

Hadits tersebut diatas juga diingkari oleh Imam Ahmad bun Hanbal (lihat Talkhish Al Habir 3/149). Imam Al Baihaqy falam As sunan al Kubronya menilai Handzolah ini sering terjadi kesalahan di masa akhir hidupnya. (As sunan al Kubro lil Baihaqy 7/100).

  • Hadits Abu Hurairah RA di atas terdapat dalam riwayat At Thobrony dalam kitab al Ausath (Al Mu’jam Al Ausath 6/349) dan Abu Ya’la dalam musnadnya dari jalur Yusuf bin Ziyad dari Abdurrahman bin Ziyad bin An’am Al Ifriqy dari Al Aghor Abi muslim dari Abu Hurairah RA (Musnad Abu ya’la 11/23), Hadits ini dinilai dhoif jiddan (lemah sekali) bahkan Al hafidz Ibnu al Jauzy menyebutnya hadits tersebut palsu, sehingga beliau memasukan dalam kitabnya bermama “Al Maudhu’at” 3/47.

Kecacatan hadits di atas terpada pada perowi Yusuf bin Ziyad. Al Hafidz Sibtho Ibn Al Ajamy dalam kitabnya “Al Kasyfu al Hatsits ‘an Man romà bi wadh’i Al Hadits, hal : 284 “Yusuf bin Ziyad al Bashry Abu Abdillah dari Ibnu An’am Al Ifriqy dan ibnu Abi Kholid, melihat profil ini oleh Imam Bukhori dinilai Munkar. Imam Ad Daruquthny berkata bahwa Yusuf bin Ziyad masyhur bil baathil. Imam ibnu Al Jauzy hadits yang diriwayatkan melalui Yusuf bin Ziyad tidak sah. Sedangkan abdurrahman bin Ziyad bin An’am Al Ifriqy, para ulama mendhoifkannya.

  • Sedangkan hadits ketiga riwayat Anas RA di atas adalah riwayat Ibnu Ady dalam Al kamil fi Adhu’afá 5/141. Dalam riwayat ini terdapat perawi bernama Amr bin Abdul Jabbar As Sanjary. Imam Ibnu Ady mengatakan bahwa kebanyakan hadits yang diriwayatkan melalui melalui jalur Amr bin Abdul Jabbar semuanya ghiru mahfudzoh atau tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan

Kesimpulannya adalah bahwa hadits-hadits di atas yang dijadikan dalil atau hujjah mereka tentang haramnya mencium tangan, semuanya adalah lemah dan tidak valid. Justru yang shohih adalah Mencium tangan orang shalih, ulama, orang tua, guru dan semisalnya adalah sunnah sebagaimana pendapat para kibarul ulama.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan