Logika Kaya : Menanam Terlebih Dahulu, Baru Kemudian Panen

Suhux.com – Logika Kaya – Secara logika, kita harus menanam terlebih dahulu, baru kemudian kita memetik hasil dari apa yang kita tanam. Logika itu 100% benar adanya.

Tapi akhir-akhir ini logika itu banyak di sangsikan oleh sebagian orang yang katanya bijaksana (entah bijaksana atau sok bijak :D), ketika pemahaman ini dibawa ke ranah shodaqoh atau sedekah.

Ketika disodorkan sebuah pertanyaan “sedekah dulu atau kaya dulu”?

Akan banyak anda temukan jawaban beserta alasannya yang katanya masuk akal bahkan lebih masuk akal

Dalam kehidupan sehari-hari, anda akan banyak temukan orang yang berkata “kalau saya sudah kaya, saya akan sedekah segini, begini, aku bantu ini, aku bantu itu”

Seakan ungkapan tersebut benar, dan masuk akal.

Tapi justru itu tidak masuk akal. kalau anda percaya bahwa “menanam terlebih dahulu, baru kemudian panen”, dan ada percaya bahwa “kaya dulu, baru bersedekah”, ini sebuah perumpamaan yang bertolak belakang dan tidak masuk akal.

Kalau anda percaya bahwa “MENANAM TERLEBIH DAHULU, BARU KEMUDIAN PANEN”. Harusnya anda juga percaya “BERSEDEKAH TERLEBIH DAHULU, BARU KEMUDIAN KAYA”

Allah memberikan perintah sedekah, kemudian dia akan mengayakan, sungguh ini sangat logis dan sangat masuk akal.

Allah memerintahkan kita bersedekah, nanti dia yang akan membalasnya. Sebagaimana tertuang dalam surat al-baqoroh 261.

Persamaannya adalah “menanam itu memberi, mengeluarkan, membuang, begitu pula dengan bersedekah, bersedekah itu juga memberi, mengeluarkan, membuang”.

Adapun proses pertumbuhan tanaman (sampai berbuah) lewat menanam dan proses bertambahnya rizki lewat sedekah, semua proses adalah peran Allah.

Bukankah dalam surat al-Baqoroh 261 Allah berjanji akan membalasnya minimal tujuh ratus kali lipat, Dan akhirnya orang yang bersedekah menjadi kaya?

Baca juga Mencapai Kebahagiaan Dunia Akhirat

Ini sangat logis sekali… Tapi sayang banyak orang yang menentang dengan berbagai alasan.

Logika Kaya Menanam Terlebih Dahulu, Baru Kemudian Panen

Di sisi lain, banyak orang yang mencari ketenangan hati, hidup damai, bahagia jiwa raga.

Baca juga Prinsip Kebahagiaan Dalam Hidup

Tapi begitu disuruh atau disarankan untuk Berdzikir, mereka membantah, bahwa tenang dulu baru berdzikir. Hati tidak tenteram bagaimana mau berdzikir?

Orang berdzikir itu akan lebih terasa dan mengena kalau hati tenteram (begitulah alasannya, dan masih banyak ungkapan alasan mereka).

Kalau kita kembali ke logika awal, yaitu menanam terlebih dahulu, baru kemudian panen, harusnya orang yang menolak untuk berdzikir dengan alasan hati masih kacau balau, sangat tidak logis. Karena tidak mungkin mereka akan menemukan ketenangan, sedangkan diri tidak mau berdzikir.

Ketenangan adalah buah, sedangkan berdzikir adalah proses menanam dalam hati. Karena yang akan mendatangkan ketenangan hati adalah Allah.

“Tanam dulu, baru panen, KEBERHASILAN adalah BUAH dari KESABARAN”

SABAR MENANAM, SABAR MEMELIHARA DAN SABAR MENYINGKIRKAN ONAK DAN DURI DALAM BERPROSES

Beginilah Logika kaya yang benar. Semoga Bermanfaat

You May Also Like

Tinggalkan Balasan