Kriteria Mati Syahid dan Golongan Orang Yang Mati Syahid

Pembagian Orang Mati Syahid

Mati Syahid – Meninggal dunia atau mati dengan membawa predikat syahid atau mati syahid adalah sebuah kematian indah yang banyak didambakan oleh orang islam. Namun pemahaman tentang mati syahid di kalangan orang awam banyak yang keliru. Mereka memahami bahwa mati syahid itu hanya khusus mati dalam membela Agama Allah (dalam hal ini adalah perang). Mati syahid sebenarnya bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang perang dan bertempur secara langsung dengan pasukan orang kafir. Ada juga orang yang dikategorikan sebagai mati syahid yang bukan dikarenakan perang.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi Wa sallam, mereka (orang yang tidak meninggal dunia karena perang melawan orang Kafir) disebut juga sebagai orang yang mati syahid atau termasuk syuhada (orang-orang yang mati syahid).

Mati syahid di sini artinya adalah orang yang mati tersebut mendapatkan pahala yang begitu besar, kelak Allah ‘Azza wa jalla memberikan pahala yang besar dan kemuliaan yang tinggi di sisi-Nya walaupun dirinya tidak mati di medan pertempurna. Jadi mati syahid tidak harus mati karena angkat senjata.

Dari Yahya bin yahya, beliau berkata: Aku membacakan pada malik dari sumay, dari Abi Sholih, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “ada seorang laki-laki berjalan, ditengah perjalanannya dia menemukan sebatang duri yang tergeletak, lalu dia menyingkirkannya dari tengah jalan, Maka dengan hal tersebut Allah meridhoinya dan mengampuni dosa-dosanya“. Lalu Nabi Muhammad pun bersabda: “Assyuhada-a khomsatun : Al math’un, walmabthun, wal ghoriq, washohibul hadmi, wasysahiidu fi sabiilillah ‘azza wajalla“.

Artinya: “Syuhada itu ada lima, yaitu:

Pertama Al-Math’un, al-math’un adalah orang yang meninggal dunia disebabkan menderita penyakit pes, sampar, wabah.
Penjelasan lain yang memperkuat  penjelasan  poin pertama adalah hadits dari Anas Bin Malik, bahwa Kanjeng Nabi Muhammad bersabda: “At-thoo’uunu Syahadatun likulli muslim“, Artinya: Tho’un adalah syahadah (mati syahid) bagi setiap muslim”.
(HR Bukhori 2830 dan Muslim 1916).

Kedua Al-Mabthun, al-mabthun adalah Orang yang meninggal dunia karena penyakit perut, atau dalam bahasa agama disebut Ishal yang artinya pembuangan isi perut dengan urus-urus atau mencret.

Menurut Imam Al Qodhi ‘Iyadh, Al-Mabthun adalah orang yang kena penyakit muntah-muntah disebabkan penyakit perut. Ulama lain berkata bahwa Al-Mabthun adalah orang yang mempunyai penyakit busung perut. Menurut pendapat lainnya Al-Mabthun adalah orang yang mempunyai penyakit perut secara mutlak, apapun bentuk penyakitnya.

Ketiga Al-Ghoriq, al-ghoriq adalah orang yang meninggal karena tenggelam di air. Baik tenggelam di sungai, laut, sumur, kolam ataupun lainnya.

Keempat Shohibul Hadmi, shohobul hadmi adalah Orang yang mati tertimpa reruntuhan. Apakah runtuhan gedung, pepohonan, longsor dan lain sebagainyanya. Mau kematiannya itu disebab karena adanya gempa bumi, angin topan, tsunami, longsor dan lain sebagainya tetap dikategorikan mati syahid.

Kelima Assyahiid fii sabilillah ‘azza wa jalla, yaitu Orang yang mati berjuang dijalan Allah.

Para Ulama sepakat bahwa mati di jalan Allah ini sifatnya umum. Ada yang sebab perang konfrontasi secara langsung dengan pasukan kafir, sedang melaksanakan sholat, mengajar, bekerja ataupun amal-amal sholih lainnya.

Alasan Para Ulama berpendapat seperti di atas karena bersandar pada sebuah hadits dalam Riwayat Imam Malik yang dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa hadits tersebut Shohih dan keshohihannya bi laa khilaaf atau tidak diperselisihkan (artinya Muhadditsin sepakat hadits tersebut shohih, walaupun Imam Bukhori dan Muslim tidak mengeluarkannya)

Teks hadits tersebut adalah sebagai berikut. Nabi SAW bersabda: “Man qutila fii sabiilillah fahuwa syahiid, Wa Man maata fii sabiilillah fahuwa syahiid

Artinya : “Barang siapa yang terbunuh dijalan Allah, maka ia mati syahid, dan barang siapa meninggal dijalan Allah, maka ia syahid”.

Bahkan diriwayatkan dalam KItab Al-Muwaththo karya Imam Malik rohimahullah hadits dari Jabir Bin ‘Atik menjelaskan bahwa kriteria Syuhada itu ada 7 macam selain syahid perang. Yaitu Al-Math’un, wa al Mabthun, wa al-ghoriq, wa shohib al hadmi, wa shohib dzaat aljanbi (orang yang punya luka bernanah disisi perut), wa al l-hariq (orang yang mati terbakar api), wa al mar’atu tamuutu bijum’in (wanita yang meninggal dalam keadaan hamil dan ada juga yang mengartikan wanita yang mati saat melahirkan).

Jadi jelasnya penjelasan di atas dapat kita kelompokan, ada syahid sebab perang (syahid dunia wal akhirat), dan ada syahid yang disebabkan bukan karena perang, Hanya saja syahid akhirat ini (bukan karena perang) tetap dimandikan dan disholatkan jenazahnya.

Para ulama mengelompokkan kategori mati syahid menjadi tiga bentuk.

1. Syahid dunia dan akhirat

Yaitu mereka yang IKHLAS dalam peperangan melawan pasukan kafir dan mati dalam medan perang.

2. Syahid dunia

Yaitu mereka yang RIYA dan tidak ikhlas saat perang dengan pasukan kafir dan mati dalam peperangan tersebut.

3. Syahid akhirat

Yaitu mereka yang mati selain perang dengan pasukan kafir. Syuhada ini sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas ada 5 dan ada yang 7 kelompok.

Para Ulama berkata : Mereka yang mati selain perang disebut syahid/syuhada, karena mereka kelak di akhirat akan mendapatkan pahala para syuhada. Diantara kemuliaan syuhada adalah kelak mereka di akhirat menjadi orang yang memberikan syafaat bagi 70 orang saudaranya. Subhanallah.

Adanya keistimewaan yang diberikan kepada para orang yang mati syahid Ini semata-mata karena fadhol dan kemurahan Allah ‘Azza wa jalla kepada umat Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Karena begitu sayangnya Allah kepada kita dan begitu perhatian dan cintanya Kanjeng Nabi Muhammad kepada kita.

Oleh sebab itu, mari kita perbanyak rasa syukur kita kepada Allah dengan semakin meningkat dan bertambahnya ta’at kita kepada-Nya, mencintai Rosulullah dengan mengikuti sunah-sunahnya secara istiqomah, bersholawat dan terus bershalawat. Allohumma sholli wasallim ‘alaa sayyidinaaa wa maulaanaa MUHAMMAD Wa alaa Alihii washohbihii Wasallim tasliiman katsiiroo.

Baca juga Always Be Positive Thinking Meraih Rahmat Allah

Adapun gempa dan macam-macam musibah lainnya yang menimpa negara kita ini adalah ‘ibroh (pelajaran) bagi kita kaum yang beriman untuk banyak bercermin, mengakui kelemahan dan kekhilafan kita selama ini.

Musibah adalah sapaan buat kita dari Yang maha Kuasa agar kita kembali dan lebih sering menghadap-Nya. Betapa kuat dan gagahnya Allah. Betapa perkasa dan luar biasanya kekuatan Allah

Yaa Qowiyyu Yaa Matiin
Yaa Jabbaru Yaa Qohhaaru

Mati Syahid dan Golongan Orang Yang Mati Syahid
Next Post

No more post

You May Also Like

Tinggalkan Balasan