Mengobati dan Menyembuhkan Penyakit Hati

Tasawuf memang bisa digunakan sebagai sarana untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit hati, namun Penyakit hati itu tidak serta merta sembuh karena belajar ilmu tasawuf (Ilmu tasawuf adalah fan ilmu dalam agama islam yang memang salah satu tujuannya agar menyucikan dari penyakit hati), Tidak.

Apalagi jika ditambah dengan belajar ilmu fikih, ilmu kalam, atau segala ilmu lainnya dalam mengobati penyakit hati. Yang ada bukan menyembuhkan penyakit hati, tapi semakin tinggi ilmu-ilmu tersebut didapat, maka semakin parah atau akutlah penyakit hati yang bersarang, karena dengan mengemas ilmu-ilmu tersebut akan membuat seseorang merasa dirinya semakin berkualitas dengannya.

Orang yang memiliki kualitas ilmu namun hatinya masih kotor ketika mendengar ayat atau hadits baik yang berkenaan dengan dirinya atau tidak, baik tentang penyucian hati atau apapun itu, ia tidak akan meraba dirinya dan hatinya, ia merasa dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang salah dengan dirinya, justru dia akan mengoreksi ayat dan hadits tersebut, dimana letak kesalahan sang penyampai atau sang pemateri. Ayat dan hadits tersebut ia gunakan itu sebagai alat untuk mengoreksi orang lain. Intinya adalah membandingkan sang penyampai (pemateri) dengan dirinya, kalau ia temukan kesalahan, ia akan berkesimpulan bahwa sang pemateri tidak sebaik dirinya. Semua nasehat dan teori percuma bagi hati yang kotor.

Mengobati dan menyembuhkan Penyakit hati ini tiada lain hanya dengan riyadhah. Riyadhah adalah aksi nyata untuk melawan jenis penyakit yang diderita, bukan sekedar dengan membaca, mendengar, mengamati nasehat dan teori keilmuan.

Contoh riyadhah dalam mengobati dan menyembuhkan penyakit hati ini bermacam-macam caranya, tergantung penyakit yang bersarang di hatinya.

  • Jika penyakit yang bersarang di hati adalah sombong karena ilmu, maka obatnya adalah membiasakan diri tampil seperti orang bodoh, duduk di belakang di tempat berkumpulnya orang-orang awam yang ketika berpendapat tak pernah diperhatikan dan didengarkan, mau mendengarkan nasehat orang lain yang jauh lebih bodoh darinya dan tidak protes ketika orang yang menasihati salah. Jika di tengah riyadhah masih ada rasa ingin menampakkan keilmuannya, merasa bahwa dirinya jauh di atas orang di sekitarnya, artinya penyakit hatinya belum sembuh.
  • Jika penyakit yang bersarang di hati adalah sombong karena kekayaan, maka obatnya adalah membiasakan diri memakai baju lusuh, makan ala kadarnya, kendaraan jelek, berkumpul dan bergaul dengan segala macam lapisan masyarakat tanpa pandang status sosial sehingga orang lain mengira sebagai orang miskin dan diperlakukan sebagai orang miskin. Jika dalam rihlah riyadhah masih ada perasaan tidak rela, keberatan dan ingin menunjukkan bahwa dirinya orang sejatinya kaya, itu artinya penyakit hati masih belum tidak sembuh.
  • Bila penyakit dalam hati adalah iri, dengki, hasud pada seseorang, maka cara mengobatinya adalah membiasakan diri memuji kelebihan orang yang diri atau dihasudi tersebut. Bila perlu sering-sering memberinya hadiah, apresiasi dan dukungan agar orang tersebut semakin sukses bahkan kalau bisa sampai melampaui dirinya sendiri. Jika masih belum bisa mempraktikkan ini atau masih dalam ranah kepalsuan dan penuh dengan kepura-puraan serta masih timbul rasa sakit hati, maka penyakit hatinya belum sembuh.

Itulah mengapa dalam dunia tasawuf sangat ditekankan tentang pentingnya peran seorang guru mursyid (pembimbing rohani). Karena hanya seorang mursyid yang bisa memberikan resep riyadhah yang pas dan sesuai dengan penyakit hati setiap murid.

Tentunya mencari seorang guru mursyid tidak mudah, laksana mencari jarum di tumpukan jerami, sebab seorang guru mursyid haruslah sosok yang sudah melewati serangkaian panjang riyadhah bathiniyah. Kalau hanya sekedar memberi nasehat dan mengutip kalam ulama, itu sih bukan mursyid, itu mah gampang, itu tidak cukup menjadikan seseorang lantas menjadi seorang mursyid.

Jika sudah menemukan seorang mursyid yang tepat, di hadapannya seorang murid harus memosisikan dirinya bagaikan mayat yang mau diapakan saja dan tidak protes. Apapun riyadhah yang diresepkan kepadanya ia terima dengan lapang dada. Kalau tidak begitu, sudah dipastikan terapi pengobatan dan penyembuhan penyakit hati tidak akan sukses.

Alkisah, ada seseorang yang terpandang nan terdidik dengan penampilan mewah dan berwibawa datang mengunjungi seorang mursyid. Dia berniat untuk berguru kepadanya sehingga kualitas dirinya bisa naik di bawah bimbingan Sang Mursyid. Akan tetapi mursyid tersebut menolaknya mentah-mentah seraya berkata: “Kamu tidak akan sanggup menjadi muridku”. Si calon murid bersikeras memohon agar dirinya diterima dan dibimbing olehnya.

Akhirnya Sang Mursyid berkata: “Baiklah, kalau begitu cukur jenggotmu itu, pakai baju jelek (compang-camping), lalu pergilah ke pasar itu sambil membawa permen. Kemudian berteriaklah di sana panggil anak-anak kecil lalu suruh mereka melemparmu dengan kerikil. Siapa yang melakukannya, maka kamu beri beri mereka permen”. Mendengar itu, si calon murid merasa tidak siap. Itulah gambaran beratnya riyadhah, aksi nyata pembersihan hati.

Baca Juga : Prinsip Kebahagiaan Hidup di Dunia

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah Bisakah riyadhah seperti di atas dilakukan tanpa adanya bimbingan mursyid?

jawabnya Bisa, hanya saja hasilnya kurang terukur sebab masih adanya ketinggian subjektifitas pribadi dalam diri. Sama halnya dengan seorang dokter, bila ia sakit, ia tetap membutuhkan perawatan dokter lain. Seorang yang ingin menempuh riyadhah pembersihan hati idealnya tetap membutuhkan pandangan orang lain, meskipun dia sendiri sudah tahu semua teorinya.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan