TA’ZIR, HAD DAN QISHASH

Pengertian Ta’zir, Had dan Qishash

Ketiga istilah di atas ada dalam ranah fiqh. Jika maknanya ditinjau secara umum, maka Ta’zir, Had dan Qishash ini maknanya semua sama, yakni hukuman.

Secara etimologi ta’zir adalah hukuman. Secara terminologi ta’zir adalah hukuman atas kesalahan yang hukumannya tidak sampai pada sanksi hukuman had dan tidak ada ketentuannya dalam syara’.

Secara etimologi had adalah batasan atau pencegahan. Istilah syara’nya adalah hukuman yang sudah ditentukan oleh hukum syariat. Sehingga tidak boleh ditambah dan dikurangi. Wajib ditegakkan sebagai bentuk pencegahan dari tindak kriminal dan destruktif.

Adapun qishosh Secara etimologi adalah hukuman yang sama persis dengan tindak kejahatannya.

Dari definisi di atas mengenai

Ditinjau dari sumber

ta’zirhadQishash
Sanksi yang tidak ada ketentuan dalam nashSanksi yang ketentuannya terdapat dalam nashSanksi setimpal yang ketentuannya dalam nash

Ditinjau dari segi hak

ta’zirhadQishash
Hak penguasa
yang mendominasi
Hak Allah
yang mendominasi
hak korban/keluarganya
yang mendominasi

Jika Anda pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren, maka istilah ta’zir ini tidak akan asing sama sekali karena di pondok pesantren ada tata tertib peraturan yang harus ditaati dan bagi para pelanggar tata tertib peraturan ini akan dikenakan sangsi. Sangsi bagi para pelanggar peraturan di pondok pesantren ini di sebut ta’zir

Jenis dan ragam hukuman ta’zir ini macam bentuknya, semua disesuaikan dengan kadar pelanggaran yang dilakukan. Setiap pesantren sudah pasti berbeda-beda dalam menerapkan ta’zir bagi para santrinya. Misalnya ada yang santri yang dita’zir gundul (dibotakin), disuruh bersih-bersih pondok selama waktu tertentu, denda semen satu sak, menghatamkan al-qur’an di maqbaroh dan lain-lain

Para ahli fiqih (fuqaha) menilai bahwa ta’zir ini diperbolehkan. Tujuannya adalah agar pelaku (para pelanggar) tidak lagi mengulang ppelanggaran yang sama. Istilahnya adalah ta’zir diberlakukan agar menimbulkan efek jera.

Dimasa khalifah Sayyidina Umar bin Khaththab RA beliau memberlakukan hukuman bagi peminum arak agar dicambuk hingga 80 kali cambukan. Padahal hukuman sebelumnya (dimasa Rosulullah SAW dan sayyidina Abu Bakar RA) hukuman bagi para peminum arak ini dicambuk 40 kali.

Melihat kebijakan semacam ini, sebagian para fuqaha mengidentifikasikan bahwa hukuman yang berlaku pada masa Sayidina Umar RA terkait pencambukan sebanyak 80 kali terhadap para pemabuk adalah karena pada masa itu para pemabuk semakin meningkat di wilayah kaum muslimin. Di saat itu pula, populasi kaum muslimin semakin banyak, serta ekspansi dan perluasan kekuasaan islam semakin luas.

Fenomena perluasan ini tentu saja harus melewati budaya dan tradisi masyarakat setempat yang sebelumnya memiliki tradisi yang tidak sejalan dengan hukum ilsma seperti kebiasaan meminum arak.

Ketika penerapan hukuman 40 kali cambuk bagi para pemabuk sepertinya dianggap remeh dan enteng oleh kaum muslimin kala itu, sehingga tingkat para pemabuk semakin banyak dan meluas. Maka dengan melihat dan menimbang hal tersebut, maka sayyidina Umar RA memutuskan had bagi para pemabuk dengan 80 kali cambuk.

Kompilasi dari hukum fiqih para fuqoha melihat inisiatif dan kebijakan Sayyidina Umar RA ini, maka mengatakan bahwa hukuman cambuk yang berupa had tetap 40 kali cambukan. Sedangkan 40 lainnya adalah ta’zir. Karena sebagaimana ketentuan hukum fiqih yang berlaku menyatakan bahwa had adalah hukuman yang sudah baku, tidak boleh ditambah dan dikurangi, dari sini para fuqaha menyimpulkan bahwa hukuman cambuk bagi para pemabuk adalah 40 cambukan, sedang 40 cambukan berikutnya adalah ta’zir, jadi hukuman cambuk sebanyak 80 kali tersebut adalah hukuman antara had dan ta’zir.

Wallohu a’lam.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan